Opini
Memilih Mainan Edukatif untuk Anak
Published
14 years agoon
By
Mitra Wacana
oleh Astriani
Saat ini banyak mainan dari luar negeri yang beredar di pasaran lokal. Anak-anak jauh lebih menyukai mainan tersebut sebab dari segi kemasan jauh lebih menarik. Permainan tradisional seperti gobag sodor, jamuran dan engklek pun sudah tidak diminati oleh anak. Anak lebih suka dengan permainan modern seperti game dan playstation. Selain itu trend mainan anak sekarang lebih berkiblat dari tayangan televise yang dilihat. Seperti sekarang contohnya, di televisi sedang trend bey blade atau gasing. Anak-anak pun memburu dan meminta orangtua untuk membelikannya. Beberapa bulan yang lalu ditelevisi juga sempat muncul permainan mobil tamiya dan anak-anak pun ikut heboh merengek ke orangtuanya untuk dibelikan.
Sebagai orangtua kita harus menyadari bahwa mainan bagi anak merupakan bagian dari proses belajar dan bermain. Mainan bisa meningkatkan daya pikir dan konsentrasi bagi anak. Tugas kita sebagai orangtua adalah memilih mainan yang tepat bagi anak, jangan asal pilih mainan karena bisa saja nantinya membahayakan bagi si anak. Meskipun sebagai orangtua kita mampu menuruti permintaan anak, tetapi jangan semua mainan yang diminta oleh anak langsung kita belikan. Sebab itu tidak mendidik anak untuk mandiri.
Orangtua tentu bisa memegang kendali dan mengarahkan anak ketika anak punya keinginan untuk memiliki salah satu mainan. Harus kita sadari mainan yang mahal belum tentu baik untuk tumbuh kembang si anak, sehingga ada baiknya orangtua mendampingi anak saat bermain. Yang paling penting bukan mahal atau tidaknya mainan tersebut tetapi bagaimana orangtua bisa menjadikan mainan tersebut bermanfaat bagi buah hatinya. Barang bekas pun bisa menjadi mainan yang edukatif bagi anak.
Dibawah ini tips memilih mainan yang baik bagi buah hati :
1. Pilihlah mainan yang memiliki nilai edukatif, sehingga anak bias belajar. Seperti mencocokkan gambar dan bermain puzzle
2. Pada saat membeli mainan, perhatikan label mainan yang tertera dan rekomendasi umurnya
3. Pilih mainan yang tidak mudah rusak dan copot agar tidak membahayakan anak
4. Pilih mainan yang bisa melatih daya ingat dan berfikir logis si anak, bisa berupa balok susun atau alat musik
5. Pastikan orangtua selalu mendampingi dan mengajak anak berkomunikasi saat bermain bersama.
Akhirnya, kita harus memperhatikan bahwa mainan untuk anak tidak harus mahal, tetapi sesuaikan dengan umur anak dan juga pilih mainan yang dapat merangsang daya pikir anak. Buah hati kita adalah generasi penerus masa depan bangsa, jaga dan dampingi dia.
*Disarikan dari berbagai sumber (kliping pendidikan dari 4 media yaitu Kedaulatan Rakyat, Tribun, Kompas, Harian Jogja dan HTTP/si janggut.blogdetik.com/feed/2011 )
You may like
Opini
Personal Branding dan Standar Harga Diri di Era Digital
Published
6 days agoon
29 July 2026By
Mitra Wacana

Abilla Shofi Khairunnisa
Prodi Psikologi
Universitas Pendidikan Indonesia
Personal branding kini menjadi salah satu topik yang sering dibincangkan di media sosial, terutama pada kalangan anak muda. Di era digital, membangun personal branding bukan lagi sekadar pilihan, namun merupakan bagian penting dalam perkembangan karier. Personal branding yang kuat dapat membuat seseorang lebih mudah dikenali baik secara personal maupun profesional.
Kini, kita dapat dengan mudah melihat potret kehidupan orang lain yang dipenuhi dengan pencapaian, produktivitas, dan kebahagiaan. Namun, tanpa disadari, kita mulai membandingkan kehidupan kita dengan apa yang ditampilkan di media sosial. Perbandingan memang dapat menjadi motivasi untuk terus berkembang. Akan tetapi, ketika perbandingan dilakukan secara berulang, hal itu justru dapat mengikis kepercayaan diri.
Secara psikologis, fenomena ini juga didukung oleh penelitian Salsabila (2024) terhadap 184 pengguna media sosial berusia 18-25 tahun yang menunjukkan bahwa semakin tinffi kecenderungan seseorang melakukan perbandingan sosial, semakin rendah pula harga dirinya. Temuan ini menunjukkan bahwa perbandingan diri yang dilakukan secara terus-menerus dapat mempengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.
Dua Konsep Cinta Diri
Persoalan ini mengingatkan saya pada konsep amour de soi dan amour propre dari Jean-Jacques Rousseau. Menurut Rousseau, manusia memiliki dua cara dalam mencintai dan memandang diri sendiri. Pertama, amour de soi, yaitu cinta diri yang lahir dari kebutuhan alami untuk hidup, berkembang, dan merasa cukup dengan diri sendiri. Dalam keadaan ini, seseorang mengembangkan diri karena hal tersebut memang bermanfaat bagi dirinya. Ia belajar untuk memahami sesuatu, bekerja demi kehidupan yang lebih baik, dan merasakan kepuasan yang berasal dari proses bertumbuh, bukan dari pujian atau pengakuan orang lain.
Sebaliknya, amour propre muncul ketika kita mulai menilai diri sendiri melalui pandangan orang lain. Rousseau tidak menganggap kebutuhan akan pengakuan sosial sebagai sesuatu yang sepenuhnya bersifat buruk. Sebagai makhluk sosial, wajar bagi manusia untuk memiliki keinginan akan penghargaan dari sesamanya. Namun, kebahagiaan dan citra diri menjadi rapuh apabila keduanya senantiasa bergantung pada pengakuan orang lain.
Cara pandang inilah yang membuat kita percaya bahwa hidup yang baik adalah hidup yang mengesankan bagi orang lain. Akibatnya, kini media sosial yang semula diciptakan sebagai ruang untuk membangun koneksi perlahan berubah menjadi ajang kompetisi untuk saling menampilkan versi terbaik kehidupan masing-masing.
Pengakuan Sosial Era Modern
Pada abad ke-18, Rousseau menemukan kecenderungan manusia untuk mencari pengakuan sosial dengan memperhatikan kehidupan masyarakat. Namun, pada abad ke-21, media sosial memperkuat kecenderungan amour propre melalui algoritmanya. Beranda media sosial cenderung lebih sering dipenuhi oleh konten yang menampilkan pencapaian, kesuksesan, dan produktivitas, sementara proses, kegagalan, dan keseharian tidak begitu terlihat.
Kondisi tersebut dapat dipahami melalui gagasan Jean Baudrillard mengenai simulakra. Menurut Baudrillard, masyarakat modern hidup di tengah representasi yang sering kali terasa lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Media sosial memang tidak selalu menampilkan kebohongan, tetapi kehidupan yang muncul di beranda telah melalui proses pemilihan, penyuntingan, dan kurasi. Sehingga, yang terlihat hanya potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Perlahan, representasi tersebut dipersepsikan sebagai gambaran kehidupan yang normal.
Akibatnya, kita tidak lagi membandingkan kehidupan nyata dengan hal yang nyata, melainkan dengan citra kehidupan orang lain yang telah dikemas sedemikian rupa. Kita perlahan menganggap bahwa kehidupan penuh pencapaian konstan merupakan standar yang harus dicapai, padahal apa yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang dipilih untuk diperlihatkan kepada publik.
Tidak ada yang salah dengan membangun personal branding. Menunjukkan karya, pengalaman, dan kemampuan. Karena hal tersebut merupakan bagian penting dari pengembangan diri maupun karier. Personal branding juga dapat membuka kesempatan dan memperluas relasi. Namun, personal branding seharusnya menjadi sarana untuk memperkenalkan diri, bukan alat untuk menentukan nilai diri.
Ketika harga diri sepenuhnya bergantung pada jumlah apresiasi, validasi, atau pengakuan dari orang lain, kita justru kehilangan makna dari proses bertumbuh itu sendiri.
Barangkali, yang perlu kita bangun bukan hanya citra diri yang menarik di mata publik, tetapi juga kemampuan untuk tetap merasa cukup ketika tidak ada yang melihat. Sebab, personal branding yang sehat lahir dari seseorang yang mengenal, menerima, dan menghargai dirinya sendiri, bukan semata-mata berasal dari hasrat untuk memperoleh pengakuan orang lain.
Fisyahrah, M. M. (2024). Hubungan Sosial Comparison Dengan Harga Diri Pada Pengguna Sosial Media (Doctoral dissertation, Universitas Islam Indonesia).

Bersatu Melawan Perdagangan Orang: JBPO Gelar Kegiatan Memperingati Bulan Anti Perdagangan Manusia Sedunia

SIARAN PERS Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia & Peluncuran Kertas Posisi Urgensi Revisi UU PTPPO “Menuju Dua Dekade Tanpa Pembaruan, Korban Terus Berjatuhan” Tier Two Coalition





