web analytics
Connect with us

Uncategorized @id

Meningkatkan Peran Perempuan Dalam Menangkal Penyebaran Radikalisme dan Terorisme

Mitra Wacana WRC

Published

on

Talkshow Radio Sonora. Foto: Mun
Waktu dibaca: 4 menit

Tempat : Sonora FM
Hari/Tanggal : Selasa, 19 Januari 2018
Waktu : 10.00-11.00
Narasumber : Istiyatun (Aktivis Perempuan Srikandi Lintas Iman)

SRILI, dibentuk tahun 2015 oleh aktivis perempuan dan tokoh perempuan lintas agama agar perempuan bisa menjadi pemicu untuk mewujudkan perdamaian. Salah satunya dilatar belakangi kekerasan yang terjadi di masyarakat dan cideranya nilai-nilai keberagaman karena kurangnya toleransi, maupun kurang memahami satu sama lain. SRILI sendiri berbasis pada agama karena salah satu pemicu timbulnya perpecahan adalah adanya kesalahpahaman dalam beragama. Tujuannya untuk meminimalisir, membangun pemahaman bersama, saling menghargai dan mewujudkan perdamaian. Anggotanya adalah orang yang sudah aktif di komunitasnya masing-masing.

Akhir-akhir ini banyak gerakan islamisme yang tidak mencerminkan Islam yang rahmatan lil’alamin. Gerakan tersebut bertujuan untuk pemurnian agama Islam tapi dalam gerakannya malah sangat radikal. Ini perlu diantisipasi karena korban yang paling banyak adalah perempuan, apalagi perempuan yang tinggal di desa dengan akses yang minim, pendidikan rendah, serta jarak desa ke kota yang jauh.

Gerakan islamisme bisa dilihat dari status yang mencirikan kelompok tertentu. Misalnya, masyarakat digiring pada opini bahwa perempuan harus tertutup dan berhijab lebar. Padahal banyak perempuan muslim yang beraktivitas di publik tidak nyaman jika harus berpakaian seperti ini, misalnya perempuan yang bekerja sebagai buruh gendong. Ini perlu diluruskan bahwa Islam itu agama yang tidak memberatkan, yang penting dalam berpakain masih sopan dan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Tindakan tegas terhadap pelaku radikalisme ini bukanlah ranah LSM. LSM bertugas untuk mendorong pemerintah agar menindak tegas pelaku ini dengan mengeluarkan regulasi. LSM juga membantu bagaimana melihat permasalahan yang ada di masyarakat. Misalnya, adanya tindak kekerasan yang dilakukan melalui poster dan berisi ancaman yang ketika dibaca orang menjadi takut, itu sudah merupakan terror. Pemerintah disini perlu mengambil tindakan jika poster tersebut melanggar pasal-pasal tertentu. Adanya ketegasan mencabut atau menghilangkan poster tersebut akan menjadikan Jogja sebagai kota yang aman dan nyaman bisa terwujud.

Ekstrimisme adalah tindakan yang memaksakan orang lain harus sama dengan dia. Jika tidak sama dianggap sebagai kesalahan besar. Pemahaman agama antara orang satu dengan yang lainnya berbeda, meskipun dengan satu sumber rujukan. Hal ini karena kemampuan seseorang dalam menafsirkan juga berbeda. Kalau ada ekstrimisme dalam beragama berarti seseorang telah memaksakan orang lain beragama sesuai dengan keyakinannya. Padahal dalam semua agama ada sumber valid, bisa dipercaya dan diyakini kebenarannya. Ini sangat bahaya karena cenderung egois dan dapat memecah persatuan dan kesatuan NKRI. Untuk mencegah adanya ekstrimisme ini kita perlu memupuk adanya toleransi, empati, rasa memiliki, adanya tepo sliro dan saling menghormati antara satu dengan yang lainnya. Jika sikap ini diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat maka akan mengurangi konflik yang terjadi sehingga tidak ada pemaksaan dalam beragama. Keyakinan yang berlebihan atau pandangan yang melampaui batas, akan memunculkan tindakan yang paling benar dan menganggap orang lain salah. Kalau pandangan ini kemudian menuduh orang lain salah maka akan muncul terror dan kekerasan.

Pencegahan kekerasan salah satunya melalui pendidikan keluarga. Pendidikan harus dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga dengan ibu sebagai pemegang kunci. Dasar dari perilaku terhadap orang lain seperti saling menghargai, penghargaan terhadap orang, tidak mengejek harus ditanamkan bahwa berbeda itu tidak apa-apa. Ketika melakukan diskusi kecil dalam keluarga ibu harus bisa mengakomodir perbedaan itu. Perbedaan bisa memunculkan ketidakadilan. Kesimpulan dan menghakimi orang lain harus mulai dikurangi karena ini adalah bibit perbedaan cara pandang. Cara pandang keluarga sekarang ini sudah mulai bergeser dengan menumbuhkan kesadaran bahwa semua orang memiliki perbedaan dan keunikan masing-masing. Jika orang sudah terbiasa menghargai maka ketika berada di luar rumah juga akan menghargai perbedaaan.

Sebenarnya yang membentuk konstruksi berpikir anak tidak hanya keluarga, guru, masyarakat, dan teman-temannya, tetapi juga media. Kita juga dibentuk oleh kondisi di lingkungan tempat tinggal kita sekarang ini. Peran perempuan dalam keluarga sangat sentral mempengaruhi perkembangan anak meskipun anak juga belajar di sekolah, masyarakat, maupun melalui media lainnya. Ibu harus bisa mendekatkan diri secara psikologis dan fisik, misalnya ketika makan bersama bertanya kepada anaknya tentang kativitas apa saja yang dilakukan selama di sekolah. Ini adalah bentuk interaksi positif yang akan merangsang anak untuk bercerita kepada orang tua.

Orang tua harus bisa memposisikan diri sebagai sahabat anak sehingga anak tidak canggung maupun malu ketika harus bercerita kepada orang tuanya. Di rumah bisa didampingi apa yang anak lakukan dan apa yang diakses ketika membuka internet. Kedekatan itu bisa dibangun untuk memperkuat psikologis anak yang itu kadang dilewatkan orang tua. Orang tua terlalu sibuk dengan dirinya sendiri sehingga anak mencari pelarian pada yang lainnya.

Sebagai pendidik ibu berkontribusi besar terhadap pembentukan cara berpikir dan perilaku anak. Banyak orang tua yang komplain terhadap pengetahuan anak apabila ada cara pandang guru yang berbeda dengan orang tua. Orang tua bisa mengajukan dialog kepada sekolah, namun jika orang tua hanya diam maka tidak ada jalan keluarnya. Guru disini tidak mewakili pribadi tetapi juga atas nama sekolah. Ini bisa dibahas saat pertemuan wali murid, maka akan terjadi perubahan. Cara-cara lama untuk mendisiplinkan siswa sudah tidak cocok dengan kondisi sekarang, ini juga perlu dikomunikasikan.

Ketika ada guru mengajarkan paham menyimpang, yang mengetahui hal ini adalah siswa dan guru tersebut, bahkan kadang pihak sekolah juga tidak tahu. Sekarang ini banyak forum wali murid, misal melalui WAG sehingga orang tua bisa mengontrol aktivitas anaknya dan orang tua juga bisa saling bercerita kepada orang tua lainnya. Apabila ditemukan hal-hal yang tidak sesaui ini bisa didiskusikan dan mungkin bisa dilaporkan kepada pihak sekolah.

Perempuan sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus istri, ketika ada sesuatu hal suami pasti akan cerita ke istrinya, begitu juga anak-anak. Ibu diharapkan menjadi sahabat bagi anaknya. Sebisa mungkin perempuan memposisikan diri sebagi sentral keluarga. Ketika ada anggota keluarga yang perilakunya berbeda dari biasanya adalah tugas perempuan bagaiman dia bisa membuka informasi itu, apa yang sebenarnya terjadi. Jika di lingkup RT atau RW, perempuan juga berjejaring di PKK dan majlis ta’lim. Ini adalah keuntungan perempuan karena mereka juga memegang kunci dalam rumah tangga dan masyarakat. Perempuan menjadi pengayom masyarakat, maka harus meningkatkan pengetahuan, pengalaman dan kualitas dirinya.

Menanggulangi terorisme harus dikembalikan ke lokal wisdom masyarakat Jawa yang suka gotong royong dan kumpul di pos kamling, jadi ketika ada warga yang individualis dan tidak mau bergabung dengan warga sekitar kita perlu mengetahui alasannya. Kita tidak harus mencurigai bahwa orang seperti itu pastilah teroris. Tetapi dengan adanya interaksi, maka kegotong royongan dan saling memiliki akan terbangun di masyarakat sehingga tidak ada unsur paksa memaksa terhadap keyakinan masing-masing karena semuanya saling menghargai.

Salah satu masalah sekarang ini adalah IT yang bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Perlu dilihat apakah lokal wisdom sekarang masih terjaga. Kita bisa memanfaatkan adanya teknologi untuk saling menyapa di lingkungan warga kita. Biasanya orang terasing atau bermasalah dan juga kurang bersosialisai, maka saling memperhatikan adalah trik untuk mendekatkan diri. Masyarakat bisa memonitor warganya, minimal orang-orang terdekat. Sehingga bisa dideteksi sejak awal jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

SRILI Melakukan dialog dan kegiatan bersama dengan orang yang berbeda agama agar tercipta suasana saling menghormati dan memahami. Ini akan bertemu pikiran, faham, rasa, sehingga terbentuk komunitas yang saling memperkuat dan dapat disalurkan kepada masyarakat yang lainnya. Selain itu juga melakukan audiensi ke beberapa pihak pengambil kebijakan. Cara dalam merespon kejahatan adalah dengan saling peduli terhadap orang lain dan saling berbagi. Perilaku kejahatan terjadi karena kondisi psikologisnya kurang diayomi.

* Disarikan dari talkshow

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opini

KONSTRUKSI MEDIA MASSA TERHADAP CITRA PEREMPUAN

Mitra Wacana WRC

Published

on

Sumber: Freepik
Waktu dibaca: 3 menit
TANTANGAN GERAKAN PEREMPUAN DI ERA DIGITAL

Lilyk Aprilia Volunteer Mitra Wacana

Di era globalisasi, media massa menjadi salah satu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat baik digunakan sebagai alat untuk komunikasi, mencari informasi, atau hiburan. Media massa terus mengalami perkembangan dari yang mulanya konvensional hingga sekarang menjadi modern . Berbicara mengenai media massa tentu ada hal yang menjadikan media massa memiliki nilai tarik tersendiri terlebih jika dihubungkan dengan keberadaan perempuan.

      (Suharko, 1998)  bahwa tubuh perempuan digunakan sebagai simbol untuk menciptakan citra produk tertentu atau paling tidak berfungsi sebagai latar dekoratif suatu produk.  Media massa dan perempuan merupakan dua hal yang sulit dipisahkan. Terutama dalam bisnis media televisi. Banyaknya stasiun televisi yang berlomba-lomba dalam menyajikan sebuah program agar diminati oleh masyarakat membuat mereka mengemas program tersebut semenarik mungkin salah satunya dengan melibatkan perempuan. Perempuan menjadi kekuatan  media untuk menarik perhatian masyarakat. Bagi media massa tubuh perempuan seolah aset terpenting yang harus dimiliki oleh media untuk memperindah suatu tayangan yang akan disajikan kepada masyarakat sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.

     Media massa memiliki beberapa fungsi diantaranya sebagai wadah untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Informasi yang diberikan kepada masyarakat salah satunya dalam bentuk iklan sebuah produk atau layanan jasa . Iklan merupakan sebuah informasi yang diberikan kepada masyarakat mengenai hal yang berhubungan dengan suatu produk atau jasa yang dikemas dengan semenarik mungkin.  Memiliki tujuan untuk menarik minat konsumen membuat salah satu pihak menjadi dirugikan . Pasalnya pemasang iklan dalam mengenalkan produknya kepada masyarakat sering kali memanfaatkan perempuan sebagai objek  utama untuk memikat para konsumen. Memanfaatkan wajah dan bentuk tubuh sebagai cara untuk menarik perhatian masyarakat membuat citra perempuan yang dimuat pada iklan terus menjadi sumber perdebatan karena dinilai menjadikan tubuh perempuan sebagai nilai jual atas produk yang ditawarkan . Ironisnya hal ini terus menerus dilakukan. 

         Memanfaatkan fisik sebagai objek untuk diekploitasi sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Terlihat dari citra perempuan yang digambarkan oleh tayangan iklan ataupun acara program televisi. Kecantikan perempuan dijadikan sebagai penghias tampilan dari suatu program acara. Dipoles sedemikian rupa untuk mendapatkan tampilan yang cantik kemudian dikonsumsi oleh publik. Demi untuk mengedepankan kepentingan media bahkan hak hak perempuan yang seharusnya dimiliki mereka dikesampingkan oleh media .  

     Selain sebagai wadah informasi untuk masyarakat media massa juga berfungsi sebagai hiburan.. Tayangan televisi yang sampai saat ini menempati rating tertinggi yaitu dalam kategori sinetron. Gambaran dalam tayangan tersebut banyak yang melibatkan perempuan dengan menggambarkan posisi perempuan selalu dibawah laki-laki. Tidak terlalu memperhatikan  pesan tersirat apa yang terkandung dalam tayangan tersebut, masyarakat terus-menerus mengkonsumsinya seolah tayangan tersebut tidak memiliki pesan yang bermasalah. Jika diperhatikan lebih lanjut banyak sekali peran perempuan yang digambarkan dari sisi lemahnya atau hanya melakukan pekerjaan domestik saja. Dengan begitu apa yang disajikan oleh media akan tertanam difikiran mereka sehingga menganggap pesan media massa sebagai realitas yang benar dan menjadi nilai yang kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 Kekuatan Media Massa Dalam Membentuk Citra Perempuan

      Media massa memiliki kemampuan dalam membentuk citra . Bermula dari gambaran atas kenyataan yang ada dimasyarakat kemudian dikembangkan dengan menggunakan bahasa yang mengandung makna baru  namun masih memiliki acuan terhadap fakta yang ada kemudian disajikan kepada masyarakat secara terus menerus.  Dengan begitu citra yang dibentuk oleh media massa akan mempengaruhi realitas kehidupan dimasyarakat. Mengingat minat masyarakat terhadap objektifikasi perempuan cukup tinggi, media massa berlomba-lomba membentuk citra perempuan yang sempurna untuk mencapai target pasar dengan menggiring opini publik dalam menetapkan standar ‘cantik’ menurut media. Perempuan kerap kali dijadikan alat oleh media massa sebagai ladang untuk mendapatkan keuntungan dengan menampilkan kemolekan dan kecantikan fisiknya. Konstruksi sosial pada citra perempuan yang terjadi pada media massa bukan lagi hal baru dan tabu, fenomena ini terus berulang seolah menjadi kebenaran dalam mengkotakkan citra perempuan. 

     Selain itu pembenaran yang terus dilanggengkan oleh media massa terkait citra perempuan menjadikan sudut pandang masyarakat berkiblat pada standar yang digaungkan media massa tersebut sehingga menjadi salah satu agen budaya yang berpengaruh terhadap realita di kehidupan masyarakat.  Penggambaran terhadap perempuan oleh media massa semakin memperjelas bahwa posisi perempuan diranah publik masih lemah.

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending