Opini
Belajar Menjadi lebih Baik
Published
9 years agoon
By
Mitra Wacana
Oleh Listiana Khasanah (Mahasiwi UIN Sunan Kalijaga)
Pernahkah kita merenung akan indahnya deburan ombak yang menerpa bebatuan karang tepi pantai ? Pernahkan kita merenung akan indahnya air terjun, kemilau air hujan dan gunung-gunung yang menjulang? Keindahan Alam adalah bukti keindahan Allah SWT. Keindahan alam juga wujud kasih-sayang Allah SWT, kepada seluruh makhluk, baik yang iman maupun yang kufur.
Islam adalah agama cinta, sementara sikap umat Islam adalah perwujudan ajarannya. Umat Islam harus mampu menjadi rahmatan lil’alamin (rahmat kepada seluruh alam), yang terus menyemaikan ajaran cinta ini, kapanpun dan dimanapun. Diceritakan di Kitab Hikam bahwa seseorang yang beriman kepada Allah SWT adalah orang yang asyikin, yakni; orang yang mampu memandang sifat keindahan Allah SWT, dengan cara merenungkan alam, serta terus memuji keindahan Allah SWT. Sehingga seorang Asyikin tidak akan mampu memilih alasan lain selain hanya cinta kepada Allah SWT, dan seluruh ciptaan-Nya (hablun minalloh wa hablnu minannas).
Pribadi berimanan dan keindahan harus selalu bersesuaian satu sama lain. Harmoni dan keindahan adalah manifestasi dari perbuatan (af’al) pribadi yang beriman. Seorang yang merasa dekat dengan Allah SWT, tidak mungkin menciderai cinta, baik kepada Allah SWT (al-kholiq) maupun kepada ciptaan-Nya (mahluq). Sangat tidak mungkin terbesit dalam hati dan pikiran (niat) orang beriman untuk menyakiti Allah SWT beserta ciptaan-Nya. Orang beriman selalu ingin menjadi yang terbaik, terutama dalam mencintai Allah SWT.
Dalam mencintai Allah SWT, pribadi berimanan sadar betul, jika dirinya adalah uswah hasanah (contoh yang baik) bagi umat lain. Maka, pribadi berimanan selalu memiliki sikap zuhud, wara’, tawadlu, qona’ah, sabar dalam menjalani hidup. Karena ia tahu, bahwa mencintai harus siap senang dan susah. Sebaliknya, pribadi berimanan tidak akan mem-fitnah, ghadap (marah), namimah (adu domba), karena tindakan ini adalah tindakan pengecut yang jauh dari sikap pecinta sejati.
Akhir-akhir ini, mudah sekali kita menyaksikan orang ber-mauidhah hasanah (mengajak kepada kebaikan) di media televisi dan media sosial (medsos). Saat sekarang ini, oleh media kita dibuat surplus mauidhah hasanah, dan sebaliknya mungkin minus uswah hasanah. Seorang yang beriman akan berhati-hati dalam memanfaatkan kemudahan peluang yang diberikan media ini, baik sebagai pendakwah (da’i) maupun sebagai pendengar (mustami’). Sebagai seorang yang berdakwah (da’i) harus berhati-hati dengan keterkenalan diri, jangan sampai seorang da’i menjadi riya’ bahkan sombong ketika sudah terkenal. Ibrahim bin Adhom dalam Kitab Hikam mengatakan bahwa,”tidak benar tujuan kepada Allah orang yang ingin terkenal”. Ayyub as-Asakhtiyani mengatakan bahwa “tidak ada orang-orang ikhlas kepada Allah, melainkan ia merasa senang dan bahagia jika ia tidak mengetahui kedudukannya.”
Berikutnya, sebagai pendengar harus lebih berhati-hati dalam memilih dan memilah ucapan seseorang dari media manapun . Pendengar seyogyanya memiliki sikap at-tawazuth (bersikap netral), at-tawazun (seimbang), at-tasamuh (toleransi). Bersikap netral artinya seorang pendengar yang baik adalah mereka yang tidak bersikap ekstrim baik kanan maupun kiri. Pendengar yang baik tidak mudah berpihak pada manapun sebelum diketahui kebenaran dari informasi yang diterima, atau ajaran yang diberikan. Pendengar yang baik juga mereka yang seimbang dalam menakar informasi, tidak cukup dengan satu informasi saja, melainkan haris mencari informasi lain, sekalipun berbeda demi mendapatkan informasi atau ajaran yang benar. Pendengar yang baik juga tidak mudah terprovokasi, tidak mudah menjustifikasi dan menghakimi pihak manapun.
Sikap tawadlu (mengakui kapasitas diri) seharusnya ada pada pendengar yang baik. Tidak sepantasnya, ahli di bidang ilmu kedokteran menyalahkan seorang arsitek, begitu pula sebaliknya. Seyogyanya seorang pendengar yang baik, lebih mengedepankan bertanya bukan menyalahkan seseorang yang memang ahli dibidangnya. Jawaban seorang ahli pasti dengan ilmu yang dikuasai. Boleh kita tidak sepakat, tetapi tidak pantas menyalahkan, mencemooh dan menyerang pribadi. Sadar akan kapasitas diri (Jawa: ngilo githok) wajib dimiliki semua orang. Bukan sebaliknya takabur (Jawa: gumedhe), karena itu bukan sikap pribadi beriman.
Keindahan tidak terletak pada pelbagai kerusakan, kerusuhan, atau bahkan pembunuhan. Pribadi yang beriman adalah pribadi yang indah dan menjunjung tinggi harkat dan martabat orang lain. Pribadi yang beriman juga pribadi yang cerdas, sikap dan tujuannya yang hanya kepada Allah SWT tidak mudah digoyahkan oleh kepentingan apapun, kecuali kepentingan untuk lebih berdekatan dengan yang dicintai, yakni; Allah SWT.
Biodata Penulis
Nama : Listiana Khasanah
Tempat, Tanggal/Lahir :Temanggung, 12 Juli
Jenis Kelamin : Perempuan
Pendidikan : Saat ini kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Dakwah
You may like
Opini
Personal Branding dan Standar Harga Diri di Era Digital
Published
6 days agoon
29 July 2026By
Mitra Wacana

Abilla Shofi Khairunnisa
Prodi Psikologi
Universitas Pendidikan Indonesia
Personal branding kini menjadi salah satu topik yang sering dibincangkan di media sosial, terutama pada kalangan anak muda. Di era digital, membangun personal branding bukan lagi sekadar pilihan, namun merupakan bagian penting dalam perkembangan karier. Personal branding yang kuat dapat membuat seseorang lebih mudah dikenali baik secara personal maupun profesional.
Kini, kita dapat dengan mudah melihat potret kehidupan orang lain yang dipenuhi dengan pencapaian, produktivitas, dan kebahagiaan. Namun, tanpa disadari, kita mulai membandingkan kehidupan kita dengan apa yang ditampilkan di media sosial. Perbandingan memang dapat menjadi motivasi untuk terus berkembang. Akan tetapi, ketika perbandingan dilakukan secara berulang, hal itu justru dapat mengikis kepercayaan diri.
Secara psikologis, fenomena ini juga didukung oleh penelitian Salsabila (2024) terhadap 184 pengguna media sosial berusia 18-25 tahun yang menunjukkan bahwa semakin tinffi kecenderungan seseorang melakukan perbandingan sosial, semakin rendah pula harga dirinya. Temuan ini menunjukkan bahwa perbandingan diri yang dilakukan secara terus-menerus dapat mempengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.
Dua Konsep Cinta Diri
Persoalan ini mengingatkan saya pada konsep amour de soi dan amour propre dari Jean-Jacques Rousseau. Menurut Rousseau, manusia memiliki dua cara dalam mencintai dan memandang diri sendiri. Pertama, amour de soi, yaitu cinta diri yang lahir dari kebutuhan alami untuk hidup, berkembang, dan merasa cukup dengan diri sendiri. Dalam keadaan ini, seseorang mengembangkan diri karena hal tersebut memang bermanfaat bagi dirinya. Ia belajar untuk memahami sesuatu, bekerja demi kehidupan yang lebih baik, dan merasakan kepuasan yang berasal dari proses bertumbuh, bukan dari pujian atau pengakuan orang lain.
Sebaliknya, amour propre muncul ketika kita mulai menilai diri sendiri melalui pandangan orang lain. Rousseau tidak menganggap kebutuhan akan pengakuan sosial sebagai sesuatu yang sepenuhnya bersifat buruk. Sebagai makhluk sosial, wajar bagi manusia untuk memiliki keinginan akan penghargaan dari sesamanya. Namun, kebahagiaan dan citra diri menjadi rapuh apabila keduanya senantiasa bergantung pada pengakuan orang lain.
Cara pandang inilah yang membuat kita percaya bahwa hidup yang baik adalah hidup yang mengesankan bagi orang lain. Akibatnya, kini media sosial yang semula diciptakan sebagai ruang untuk membangun koneksi perlahan berubah menjadi ajang kompetisi untuk saling menampilkan versi terbaik kehidupan masing-masing.
Pengakuan Sosial Era Modern
Pada abad ke-18, Rousseau menemukan kecenderungan manusia untuk mencari pengakuan sosial dengan memperhatikan kehidupan masyarakat. Namun, pada abad ke-21, media sosial memperkuat kecenderungan amour propre melalui algoritmanya. Beranda media sosial cenderung lebih sering dipenuhi oleh konten yang menampilkan pencapaian, kesuksesan, dan produktivitas, sementara proses, kegagalan, dan keseharian tidak begitu terlihat.
Kondisi tersebut dapat dipahami melalui gagasan Jean Baudrillard mengenai simulakra. Menurut Baudrillard, masyarakat modern hidup di tengah representasi yang sering kali terasa lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Media sosial memang tidak selalu menampilkan kebohongan, tetapi kehidupan yang muncul di beranda telah melalui proses pemilihan, penyuntingan, dan kurasi. Sehingga, yang terlihat hanya potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Perlahan, representasi tersebut dipersepsikan sebagai gambaran kehidupan yang normal.
Akibatnya, kita tidak lagi membandingkan kehidupan nyata dengan hal yang nyata, melainkan dengan citra kehidupan orang lain yang telah dikemas sedemikian rupa. Kita perlahan menganggap bahwa kehidupan penuh pencapaian konstan merupakan standar yang harus dicapai, padahal apa yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang dipilih untuk diperlihatkan kepada publik.
Tidak ada yang salah dengan membangun personal branding. Menunjukkan karya, pengalaman, dan kemampuan. Karena hal tersebut merupakan bagian penting dari pengembangan diri maupun karier. Personal branding juga dapat membuka kesempatan dan memperluas relasi. Namun, personal branding seharusnya menjadi sarana untuk memperkenalkan diri, bukan alat untuk menentukan nilai diri.
Ketika harga diri sepenuhnya bergantung pada jumlah apresiasi, validasi, atau pengakuan dari orang lain, kita justru kehilangan makna dari proses bertumbuh itu sendiri.
Barangkali, yang perlu kita bangun bukan hanya citra diri yang menarik di mata publik, tetapi juga kemampuan untuk tetap merasa cukup ketika tidak ada yang melihat. Sebab, personal branding yang sehat lahir dari seseorang yang mengenal, menerima, dan menghargai dirinya sendiri, bukan semata-mata berasal dari hasrat untuk memperoleh pengakuan orang lain.
Fisyahrah, M. M. (2024). Hubungan Sosial Comparison Dengan Harga Diri Pada Pengguna Sosial Media (Doctoral dissertation, Universitas Islam Indonesia).

Bersatu Melawan Perdagangan Orang: JBPO Gelar Kegiatan Memperingati Bulan Anti Perdagangan Manusia Sedunia

SIARAN PERS Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia & Peluncuran Kertas Posisi Urgensi Revisi UU PTPPO “Menuju Dua Dekade Tanpa Pembaruan, Korban Terus Berjatuhan” Tier Two Coalition






