web analytics
Connect with us

Opini

MENGENAL PKDRT MELALUI WOCA

Published

on

Suasana senam P3A Women Care Karangjati Banjarnegara

Oleh Rahayuningsih (anggota P3A Women Care Desa Karangjati, Banjarnegara)

Hari itu, Rabu 14 Mei 2014 kami bersama-sama dengan ibu lain menuju Desa Berta. Tujuan kami adalah mengikuti seminar sehari dengan tema “Membangun Relasi Setara untuk Perlindungan Anak”. Di situ kami saling mengenal dengan ibu-ibu asal Desa Berta dan di Desa Berta -lah pertama kali kami mendapatkan wawasan tentang perlindungan anak. Pada waktu itu sambutan kepala desa begitu antusias. Mudah-mudahan untuk anak dan anak remaja diadakan seminar supaya lebih tahu apa dan kenakalan remaja atau tentang kekerasan seksual dan agar mereka berhati-hati karena zaman sekarang banyak alat canggih yang bisa merusak masa depan anak-anak. Terlebih sambutan dari ibu Rindang Farihah dari Mitra Wacana yang begitu mengesan di hati kami. Beliau memberikan pengertian tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang semula tabu kami bicarakan tapi sekarang kami bangga apalagi sudah ada undang-undangnya.

Kita lebih kuat membela kebenaran apabila kita benar tidak disakiti. Dilihat dari kasus bahwa rata-rata pertahun perempuan korban KDRT yang menyelesaikan masalahnya dengan mengambil jalur baik pidana maupun perdata hanya pada kisaran 10 persen.
Begitu juga KDRT. Jangan sampai terjadi, apalagi kami sudah diberi tahu setidaknya bisa diterapkan dalam diri kita sendiri. Hari demi hari berjalan begitu cepat tak terasa ilmu yang telah diberikan dari Mitra Wacana begitu banyak. Wawasan yang kita terima yang begitu luas untuk diri kita sendiri maupun lingkungan.

Akhirnya, kami membentuk kelompok sendiri-sendiri. Ibu-ibu di Desa Karangjati pada Jumat tanggal 17 Oktober 2014, Pusat Pembelajaran Perempuan dan Anak (P3A) yang diberi nama Women Care (WOCA) dengan nomor SK Kepada Desa no 149/12/2014.
Visi dari WOCA adalah terciptanya kehidupan yang berkeadilan, penuh kesetaraan dan hubungan yang sehat di masyarakat.

Sedangkan misinya adalah mewujudkan kesejahteraan dan keadilan gender dan membangun kesadaran masyarakat untuk mencegah terjadi segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tujuannya adalah mengajak masyarakatuntuk mengenal dan mengetahui, memahami arti penting keadilan dan kesetaraan gender. Selain itu juga dikenalkan Parenting, yakni adalah pola asuh yang mana telah kita jalankan setiap hari untuk mendidik anak-anak ke masa depan yang lebih baik.

Selain itu kami juga dilatih untuk berbicara di depan orang lain. Memang berbicara tak semudah yang kita bayangkan. Saya sendiri ingin sekali seperti orang-orang yang bisa menerangkan dengan begitu lancar tidak bertele-tele. Mau tidak mau kita harus berani berbicara di depan umum.

Di desa karangjati juga pernah datang seorang tamu dari Jerman yaitu Mr.Martin dengan didampingi Mbak Mayus sebagai penerjemah bahasa Jerman ke bahasa Indonesia. Di situ di ceritakan tentang berdirinya AWO, organisasi sang tamu. Mulanya AWO didirikan oleh ibu-ibu yang bertujuan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu. AWO berdiri tahun 1999 dan AWO bersumber dari dana pajak yang disisihkan 50 persen untuk membantu kegiatan masyarakat. Kami pun diberi kesempatan untuk bertanya dan bertukar pikiran. Kalau tidak salah kami bertanya tentang gender. Apakah itu gender pada waktu itu yang menjawab sebagai contoh adalah bu Kades. Dia memaparkan, gender adalah kesetaraan, kebersaman antara laki-laki dan perempuan entah itu kedudukan atau pun kepemimpinan baik dalam pemerintahan maupun dalam rumah tangga. Misalkan kita lagi repot suaminya harus mambantu.

Seiring dengan berjalannya waktu, tanggal 29 Desember 2014, kami P3A WOMEN CARE dari Karangjati dan P3A Desa Berta yaitu “Lentera Hati” bersama-sama diakui oleh Desa dan masyarakat dalam acara launching Pendirian P3AWomen Care dan Lentera Hati. Begitu semangatnya ibu-ibu Karangjati yang bekerjasama dengan Desa Berta, kami bergotong royong menyiapkan segala kebutuhan yang akan diadakan untuk acara launching, baik dalam bentuk pikiran, tenaga atau lainnya. Kami pun mengundang selirih lapisan masyarakat mulai dari tingkat RT, RW, BPD, LP3M lalu Kecamatan serta dari Kabupaten yakni P2TP2A. Begitu meriahnya, satu persatu diperkenalkan kepada masyarakat. Mulai dari Direktur Mitra Wacana Ibu Rindang Farikhah dan semuanya. Setelah kami ditetapkan sebagai organisasi P3A Women Care dan Lentera Hati (Desa Berta) kami jadi bangga sekali, karena sudah terbentuk dan disahkan organisasi tersebut.
Pemerintah juga mendukung. Apalagi Kepala Desa di Karangjati dijabat oleh seorang perempuan yang dilibatkan langsung dalam keanggotaan P3A. Sehingga, kami lebih leluasa apabila menghadapi segala bentuk kasus entah itu kekerasan fisik atau kekerasan seksual.

Dikira Melawan Lelaki

Di desa kami juga pernah ada kasus kekerasan seksual dan mau tidak mau kami didampingi kepala desa, terjun langsung untuk menangani dan mendampingi kasus tersebut. Apabila dalam organisasi kami ada masalah tak segan-segan kami selalu berkoordinasi ke Desa atau dengan lembaga-lembaga lainnya yang ada di Desa kami.
Meskipun demikian, masih ada masyarakat yang tidak merespons sama sekali organisasi kami. Kami dikira membentuk organisasi yang merugikan masyarakat atau menyepelekan dan melawan kaum lelaki. Padahal di balik semua itu, ilmu-ilmu yang telah diberikan dari Mitra Wacana sangat bermanfaat untuk anak didik kita, kami pun tak pantang menyerah, justru itulah yang membuat kami menjadikan sebuah tantangan untuk bangkit dan lebih maju untuk ke depan.

Dengan penuh semangat dan sabar kami memberikan pengertian kepada masyarakat dan kami tetap berjuang terus. Sslagi masih bisa kenapa tidak dimanfaatkan. Semangat ibu-ibu Women Care makin hari terus meningkat dan itu terbukti dengan kesibukan kami dalam memperkenalkan P3A ke seluruh masyarakat dan mengajak yang lainnya untuk bersosialisasi anti kekerasan meskipun rata-rata ibu-ibu Karangjati punya banyak kesibukan di luar P3A.

Ilmu atau pengetahuan yang telah diberikan dari Mitra Wacana banyak sekali faedah dan tak ternilai harganya, tinggal kita bisa menerapkan dan mensosialisasikan atau tidak. Banyak hal dikenalkan, KDRT, KSTA, trafficking, gender, pola asuh, perlindungan anak dan perempuan serta hal lain.

Seiring berjalannya waktu, kami pun memberanikan diri untuk audiensi dengan pemerintah Desa (Kepala desa) mohon pertimbangan supaya kegiatan Women Care bisa imasukan dalam APBDes. Dan ibu Kades pun menanggapi dengan penuh semangat dan menyetujui untuk dianggarkan kegiatan tersebut. Dan kami harus mengundang anggota BPD yang mempunyai peranan penting sebagai tangan kanan pemerintahan.

Walhasil anggota BPD memberi pintu semangat bagi ibu-ibu Women Care karena kegiatan kami telah disepakati dan dapat dimasukkan dalam APBDes 2017. Sebelum kami berhadapan dengan BPD hanya terbayang rasa tegang, minder, cemas tapi itu semua langsung sirna begitu palu diketok dan disetujui berkat keberanian dan usaha dari ibu-ibu semua.

Berbagi Di Jambore

Tanggal 22-23 November 2016 kami P3A Desa karangjati, P3A Desa Berta, P3A desa Petuguran dan P3A Desa Bondolharjo, organisasi perempuan keagamaan, Syarikat Islam, Cawan Bara, TP PKK Kecamatan Punggelan dan Susukan, PMI Kabupaten Banjarnegara dan relawan-relawan dari P2TP2A mengikuti jambore Perempuan Desa di BLK Klampok. Di situlah kami saling kenal, bertambah teman berbagi ilmu. Kami dapatkan pula kejelasan Indonesia dinyatakan “Darurat Kekerasan”.

Peningkatan kasus kekerasan seksual terhadap Anak dan Perempuan secara nasional tahun 2016 sebanyak 3.325 Kasus (Komnas Perempuan), korban terbanyak adalah perempuan di usia anak dan remaja. Jikalau kita mendengarkan alangkah ngerinya dan sangat miris hati kita sebagai orangtua. Apalagi seperti kita yang mempunyai anak perempuan dan menginjak dewasa harus bisa menjaga dan memantau kegiatan-kegiatan apa saja yang ia lakukan, perhatikan tingkah lakunya jangan sampai orang tua kecolongan. Itulah pentingnya kita mengikuti kegiatan atau organisasi yang ada di Mitra Wacana.

Kini tidak terasa hampir tiga tahun Mitra Wacana telah bersama. Kami digembleng dengan ilmu yang begitu banyak, sehingga sedikit demi sedikit dilepaskan atau diusahakan untuk mandiri tetapi tetap dipantau dari pendamping kita yang selalu mengikuti ke mana kita tuju dan member kesempatan kepada Ibu untuk belajar dan belajar. Pendamping kita selalu sabar, setia, ramah dan cantik juga selalu memahami kondisi kami, sehingga kami merasa bisa bersahabat dengannya, itu membuat kami lebih mudah bekerjasama dengannya.

Kami pun diarahkan untuk membahas dan membuat program organisasi Women Care, dan terbentuklah beberapa program dan program terbesarnya adlah program Sosialisasi silang yaitu memperkenalkan Women Care dan menggetok tularkan ilmu yang sudah di dapatkan dari Mitra wacana terkait perlindungan perempuan dan anak di RW – RW yang ada di Desa Karangjati secara silang. Selain program sosialisasi silang yang dilakukan di Desa Karangjati juga ada program “Women Care Ngambah Sekolah”, yakni sosialisasi ke sekolah-sekolah yang ada di Susukan.

Sosialisasi kami pertama kali di di SMP 1 Susukan dengan narasumber Bu Darini. Beliaulah yang sudah begitu hebat dan terbiasa mengajak anak didiknya. Antusiasme siswa sangat luar biasa bahkan kami diajak kerjasama oleh pihak sekolah untuk memberikan sosialisasi ke SMP tersebut rutin pada tiap semester. Tidak hanya di Sekolah SMP saja kami bersosialisasi, tapi kami pun melkukan sosialisasi di tingkat SD yang ada di Desa karangjati.

Hal yang paling menantang dari program kami yaitu sosialisasi silang, karena mental kami benar-benar diuji di depan masyarakat. Setiap kami melakukan sosialisasi antar RW kita harus siap dengan segala risiko. Biasanya banyak pertanyaan yang dilontarkan dari masyarakat atau sebaliknya justru tadinya masyarakat belum tahu akhirnya menjadi tahu karena ada pendekatan yang kita lakukan pada masyarakat. Misalnya kita mengisi tentang KSTA, jelaskanlah sebisa mungkin yang dapat dimengerti oleh masyarakat. Kebanyakan masyarakat pasti belum banyak yang mengenal kegiatan-kegiatan yang ada di desa, maka kenalkan dulu organisasi kita dan apa tujuan kita dan sebagainya.

Bulan berganti bulan organisasi kita tetap berjalan, rutin meetingpun berjalan tak ada putusnya saling bersilaturahmi dari rumah anggota satu ke rumah anggota lain. Dan kamipun bersama-sama dengan anggota setiap bulan selalu membahas kegiatan dan kendala. Karena kami berkomitmen untuk berjuang melawan kekerasan, melindungi anak dari segala kekerasan berbentuk apapun.

Kami bangga sekali dan mengucapkan banyak terimakasih kepada Mitra Wacana terutama Bu Rindang Farikhah, Enik Maslahah, Mas Mansur, Pak Noto, Mbak Septi, Mbak Vitrin, Mbak Nata, mbak kembar, Desi dan Dewi dan khususnya pendamping Mbak Poe Purwanti yang telah banyak berkorban waktu, materi dan lain-lain untuk ibu-ibu WOCA. Mudah-mudahan ilmu yang telah diberikan kepada kami bisa diterapkan kepada masyarakat. Insyaallah kalau kita niat pasti bisa. Sebelum berpisah dengan Mitra Wacana, kami secara pribadi bersama-sama dengan ibu-ibu Women Care juga pemerintah desa mohon maaf sebesar-besarnya, STOP KEKERASAN !! Wani ngomong…. Wani Lapor…Aja Meneng Bae.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Ilusi Kebebasan: Ketika Struktur Mengekang Identitas Diri

Published

on

Sumber foto: Freepik

Hafizh Achmad Fauzan seorang mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia

Sulitnya menjadi diri sendiri di tengah masyarakat yang sedikit-sedikit mengatakan, “kamu aneh”

Pernah nggak sih kamu merasa harus selalu memakai “topeng” setiap kali kamu beranjak keluar rumah? Dihadapan teman, keluarga, atau bahkan tetangga, kita selalu mencoba berakting menjadi sosok yang manut-manut saja sama standar yang sudah mereka terapkan. Tetapi begitu sampai di kamar, mengunci pintu, lalu merebahkan diri, disanalah kita baru bisa bernafas lega dan bertanya-tanya kepada diri sendiri: “sebenernya, yang tadi aku tunjukkan itu aku atau siapa, sih?”

Pertanyaan mengenenai, “siapa sih aku sebenarnya” itu bukan cuma lamunan impulsif sebelum tidur, ia adalah sebuah pertanda bahwa ada kekosongan di dalam diri yang minta diisi.

Secara alami, kita pun mulai mencari jawaban ke luar. Kita menjelajahi internet, mengobrol sama teman, sampai menyerap berbagai informasi demi menemukan identitas yang terasa, “ini aku banget”. Begitu merasa sudah ketemu dan siap membagikannya ke dunia nyata, plak! Realita menampar keras. Lingkungan sosial kita bukannya menyambut dengan tangan terbuka, tapi malah mengecap identitas itu sebagai sebuah “anomali”—sesuatu yang aneh, salah, atau wajib diluruskan.

Psikolog ternama, Erik Erikson pernah bilang kalau pencarian identitas itu memang fase yang krusial banget. Kalau lingkungan kita suportif, kita bakal tumbuh jadi pribadi yang percaya diri. Faktor pembentukan identitas diri ini seringkali dipengaruhi oleh faktor internal yang berada dalam diri kita sendiri. Dapat berupa motivasi atau regulasi diri. Seringkali kita membutuhkan dukungan moral dari luar seperti dari keluarga, teman-teman, atau tokoh idola yang sekarang lagi happening di dunia maya, idolaku menyelamatkanku ketika aku tak yakin pada diri sendiri, namun mereka melihatku seperti sosok yang berharga.

Bagaimana kalau yang kita dapatkan bukan sebuah dukungan, melainkan berupa cemoohan dan kecaman yang menusuk seperti duri?

Dari sinilah krisis identitas itu lahir. Karena takut dibilang aneh atau dikucilkan, banyak dari kita yang pada akhirnya memilih jalan aman dengan bikin identitas semu. Kita berpura-pura menyukai apa yang mayoritas sukai.

Tapi ya kali mau terus-terusan menyamar sepanjang hidup? Pura-pura jadi orang lain itu lelahnya luar bisa, membuat diri kita hilang terkubur redup. Efek jangka panjangnya bisa membuat kita cemas, depresi, sampai merasa hampa karena tak pernah benar-benar merasa hidup. Makanya, nggak heran kalau banyak orang  yang akhirnya memilih lari ke dunia maya—  sebagian dari kita pada akhirnya memilih untuk memuat identity fluidity virtual atau pada zaman sekarang, hal ini disebut dengan pembuatan akun alter. Karena menurutnya, di dalam dunia ini mereka merasa aman, dan nyaman tanpa memiliki perasaan takut dijudging karena telah menjadi diri sendiri. Semuanya dilakukan secara anonim.

Mendapat dukungan moral dengan mudah, tanpa harus memaksakan diri agar dapat diterima, mengapa hal ini terasa sulit? Seperti mustahil untuk didapatkan di dunia nyata? Mengapa terasa mudah apabila dilakukan sebagai anonim di dalam dunia maya? Pertanyaan-pertanyaan itu kerap kali muncul hingga identify difussion mengincar kita yang gagal dalam pembentukan identitas diri.

Secara filosofis, filsus eksistensialis Jean-Paul Sartre punya jargon terkenal: “Condemned to be free”—manusia itu dikutuk dan diciptakan untuk bebas. Maksudnya, kita terlahir tanpa cetakan makna bawaan. Kamulah pencipta atas hidup dan makna dirimu sendiri. Kamulah pengendali atas apa yang kamu inginkan.

Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, teori Sartre ini sering kali mental saat berhadapan dengan struktur sosial. Masyarakat kita rajin banget menetapkan “nilai tunggal”. Kalau kamu sedikit berbeda dari kebiasaan mayoritas, kamu langsung dilabeli buruk. Kebebasan berekspresi yang digadang-gadang itu seolah cuma mitos, karena struktur di sekitar kita lebih suka menyeragamkan ketimbang menghargai keberagaman.

Lantas, harus bagaimana kita menghadapi dunia yang sering kali tidak ramah ini?

Filsuf Albert Camus punya sudut pandang yang menarik soal ini. Menurut Camus, dunia ini memang penuh absurditas—dunia nggak selalu adil dan usaha kita buat diterima nggak selalu berbuah manis. Cara melawannya bukan dengan menyerah atau terus-menerus sedih, melainkan dengan menjadi “The Stranger”: berdamai dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus pada nilai diri sendiri tanpa peduli diktasi luar.

Nietzsche juga menambahkan konsep keren bernama will to power. Jangan biarkan kehampaan atau penolakan sosial menghancurkanmu. Jadilah ubermensch yang artinya menjadi manusia yang berani menciptakan nilainya sendiri di tengah masyarakat yang mengekang. Dan berani untuk tetap tumbuh, tetap pada pendirian teguh akan identitas diri, jangan takut akan runtuh. Karena dunia akan ikut meluruh apabila kita tetap utuh. 

Dunia ini bukan cuma milik satu kelompok atau satu standar nilai. Seperti kata Jean-Francois Lyotard; kita harus bisa menghargai bahwa tiap manusia punya konteks dan perspektif yang berbeda-beda. 

Parahnya lagi, situasi ini makin keruh belakangan ini. Peraturan pemerintah yang harusnya melindungi semua warga malah kerap dipakai sebagai alat legitimasi buat mendiskriminasi, mengkriminalisasi, atau memojokkan kelompok yang dianggap “anomali” dari standar mayoritas. Dalihnya ya macam-macam, dari soal nilai sosial sampai ideologi. Efeknya? Banyak orang yang akhirnya makin takut buat jadi diri sendiri di ruang publik karena merasa keselamatan mereka terancam.

​Capek nggak sih melihat masyarakat kita terus-terusan dibenturkan oleh konflik horizontal yang mengorbankan kelompok minoritas, sementara masalah-masalah besar yang jauh lebih krusial malah kelelep gitu aja? Sudah saatnya kita belajar dari sejarah dengan mengetahui bahwa persatuan itu lahir dari rasa saling menghargai perbedaan, bukan dari memaksa semua orang untuk seragam.

Pada akhirnya, identitas diri itu adalah tentang kesadaran penuh akan siapa diri kita dan bagaimana hasil dari proses panjang mengeksplorasi nilai, memilih apa yang kita yakini, lalu berani menampilkannya ke dunia.

Menerima diri sendiri itu krusial banget biar kita bisa melangkah dengan percaya diri dan nggak gampang tumbang oleh krisis batin. Ketika dunia luar mulai bising dengan penolakan dan cemoohan, ajaran Albert Camus bisa kita jadikan sebagai benteng pertahanan diri, karena beliau bilang, berdamai saja dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus merawat nilai-nilai yang kita yakini.

Kita tidak boleh melupakan fakta bahwa pada akhirnya, setiap manusia memiliki keinginan yang sama dan sederhana; kita menginginkan hak untuk hidup dengan aman tanpa takut terdiskriminasi atau bahkan tereleminasi sosial. Sudah saatnya kita merayakan pluralitas dan menghargai perbedaan bagaimana cara seseorang memaknai dan menghargai hidupnya. Toh, pada dasarnya, nggak ada satu pun manusia di dunia ini yang ingin diperlakukan tidak adil hanya karena ia memilih untuk jujur pada dirinya sendiri.

 

REFERENSI

Nietzsche, F. (2005). Thus spoke Zarathustra (G. Parkes, Trans.). Oxford University Press.

Camus, A. (1955). The myth of Sisyphus (J. O’Brien, Trans.).

Sa’diyah, H., & Jannah, S. N. F. (2025). Ontologi attachment dalam dinamika keluarga: Peran orang tua dalam pembentukan identitas anak. Educazione, 13(1), 42-54.

Hidayah, N., & Huriati. (2016). Krisis identitas diri pada remaja “identity crisis of adolescences”. Sulesana, 10(1), 49-62.

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending