web analytics
Connect with us

Arsip

Tafsir Agama Ramah Perempuan: Upaya Penghapusan Kekerasan

Mitra Wacana WRC

Published

on

learning banner
Waktu dibaca: 2 menit

Adat Jawa “Pasok Tukon” cenderung merugikan perempuan. Ketika sudah ada pasok tukon, seolah-olah calon penganten laki-laki sudah ‘membeli” calon penganten perempuan. Pasok tukon dimaknai sebagai panjar, sehingga  meskipun belum ada ijab kabul,  seolah-olah sudah halal segala-galanya. Pernah ada kejadian di sebuah kampong di Kabupaten Sleman, tiba-tiba calon penganten laki-laki memutuskan untuk tidak meneruskan ke jenjang pernikahan. Pernyataan ini terungkap dari peserta  Focus Group Discussion (FGD)  pada Kamis (3/6). FGD diselenggarakan oleh Komunitas untuk Indonesia yang Adil dan Setara (KIAS) Vocal Point Yogyakarta di Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia (PSI UII), Yogyakarta.

Menurut koordinator KIAS Vocal Point Yogyakarta, Titik Istiyawatun, FGD dimaksudkan untuk menggali  fenomena bias gender dalam penafsiran ajaran agama-agama dan budaya di Yogyakarta.  Hal ini merupakan bagian dari upaya pemetaan kultur dan kebijakan yang ada. Pemetaan dilakukan sebagai langkah awal perumusan agenda promosi tafsir agama dan budaya ramah perempuan.

Menurut Titik mengatakan bahwa tafsir agama-agama dan budaya yang kurang ramah terhadap perempuan selama ini, menjadi akar penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Sehingga penting untuk dilakukan upaya tafsir ulang ajaran agama-agama dan budaya yang masih bias menjadi tafsir yang lebih ramah, lalu mempromosikannya secara massif. Ini penting untuk meminimalisir terjadinya kekerasan terhadap perempuan.

FGD melibatkan pengurus ormas agama  lintas iman, seperti Wanita Katholik Republik Indonesia (WKRI), Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI), Perempuan Buddis, Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Fatayat, dan beberapa ormas lain yang ada di Bantul dan Sleman Yogyakarta.

KIAS merupakan jaringan masyarakat yang bertujuan menghapus praktek kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan yang didasarkan atas tafsir agama dan budaya. KIAS dideklarasikan di Jakarta, pada 8 Maret 2011  bertepatan dengan peringatan 100 tahun Hari Perempuan Internasional.

Saat ini sudah terbangun jaringan KIAS di 18 propinsi di seluruh Indonesia.  KIAS Vocal Point Yogyakarta merupakan salah satu diantaranya,  dengan Mitra Wacana Woman Resource Centre (WRC) Yogyakarta sebagai koordinator. Tim inti KIAS Yogyakarta terdiri dari PSI UII, Lembaga Studi Islam dan Politik (LSIP) Yogyakarta, dan Rifka Annisa.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Arsip

Kunjungan Mahasiswa FKM UAD ke Mitra Wacana

Mitra Wacana WRC

Published

on

Waktu dibaca: < 1 menit

Senin siang (27/6/2022) Mitra Wacana kedatangan 6 orang mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan untuk mendalami dinamika organisasi masyarakat dan LSM.

“Pada awalnya saya tegang dan takut sebelum ke Mitra Wacana, apalagi berbicara masalah perempuan”, ujar Cut Nurul. Mahasiswi angkatan 2020 asal Aceh ini juga mengaku khawatir ketika membicarakan isu perempuan karena di dalam lingkungan keluarganya masih dianggap sensitif.

“Isu perempuan di keluarga agak sensitif untuk dibicarakan”, ungkapnya menambahkan.

Zaenal, mahasiswa asal Purworejo rekan Cut Nurul menyatakan bahwa dalam melaksanakan program pasti ada tantangan bagi. “Kalo boleh tahu apa kendala yang pernah dialami Mitra Wacana selama ini?”

“Menjaga spirit, ideologi, yang menjadi kesepakatan organisasi bagi kami adalah tantangan”, sambut Wahyu Tanoto yang hadir menemani para mahasiswa.

Dalam kesempatan pertemuan tersebut Ovi Hariani selaku pengurus organisasi tampak hadir menjawab beberapa pertanyaan dari mahasiswa.

“Kami juga pernah bekerja dan memiliki pengalaman membuat alat edukasi komik bagi remaja”. sebut Ovi.

Diskusi yang santai, yang diselingi canda diawali dengan pemaparan sejarah mitra wacana, visi misi, nilai, tujuan dan program organisasi. Dari awal hingga akhir diskusi berjalan dengan lancar

Dalam kesempatan tersebut, Ovi Hariani meminta Cut Nurul dan rekan-rekannya agar menjadi pemantik diskusi dalam talk show di Kantor Mitra Wacana Gedongan Baru No. 42 Pelemwulung Banguntapan Bantul pada senin pekan depan pukul 13.00 WIB. (Tnt).

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

EnglishGermanIndonesian
Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung