Opini
Kartini dan Sekilas Feminisme
Published
10 years agoon
By
Mitra Wacana

Muhammad Mansur
Oleh Muhammad Mansur
Door Duisternis Tot Licht dalam bahasa Indonesia “Habis Gelap Terbitlah Terang” adalah Buku yang berisi Surat-surat R.A Kartini kepada sahabat-sahabat pena-nya di Belanda. Buku tersebut berisi catatan yang merupakan cita-cita, harapan, dan pemikiran RA Kartini melawan ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan segala bentuk penindasan terhadap harkat dan martabat perempuan pribumi (Jawa) yang selalu mendapatkan perlakuan diskriminatif secara kultural.
Pemikiran Kartini lahir dari masalah perempuan Jawa. Perjuangan Kartini yang mencoba memperjuangkan hak perempuan pribumi telah menginspirasi gerakan perempuan di Indonesia agar setara dengan laki-laki. Ide dan aktivitas Kartini merupakan gerakan feminis awal di Indonesia dan memberikan perubahan signifikan terhadap cara pandang dunia terhadap perempuan. Perempuan yang dulu diposisikan hanya dalam sektor domestik mampu menunjukkan eksistensinya dalam ranah publik. Maka, saat ini bisa kita jumpai perempuan menduduki posisi penting baik di sektor pemerintahan hingga swasta.
Feminisme, selain memiliki dampak positif juga dinilai memiliki implikasi negatif yang dianggap “merusak” tananan sosial masyarakat. Feminisme yang diperjuangkan Kartini bisa jadi berbeda dengan yang dipahami perempuan zaman sekarang, Prinsip egaliterianisme yang ingin dikobarkan Kartini adalah kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Perjuangan Kartini berpijak pada persoalan hak perempuan atas pendidikan. Artinya, perempuan bisa berperan dalam ranah publik salah satu caranya adalah dengan bisa mengakses pendidikan. Namun, Kartini masih melihat bahwa perempuan memiliki hak dan tanggung Jawabnya atas keluarga. Hal tersebut bisa dipahami bahwa dia hidup di masa feodalisme masih sangat kuat.
Femenisme modern lahir dari feminis liberal dan sosialis. Feminisme di satu sisi menimbulkan ketidakstabilan sosial karena memang feminisme mengkritik sistem sosial yang mendominasi yaitu patriarki. Laki-laki dan perempuan memiliki kualitas maskulin dan feminin dalam dirinya. Sifat menguasai, kompetisi, dan ambisius dilekatkan sebagai ciri maskulin dan kadang juga dipakai perempuan di sektor publik. Sedangkan kualitas yang berkarakter mengasuh dan memelihara dilekatkan sebagai kualitas feminin. Beberapa laki-laki maupun perempuan melihat kualitas maskulin yang ada pada diri perempuan dan kualitas feminin yang ada pada laki-laki menyebabkan “goyahnya” tatanan sosial.
Filosofi Yin-Yang tentang kestabilan untuk dapat saling lengkap melangkapi mulai bergeser yang pada akhirnya berujung kehancuran. Ini bisa kita lihat dalam konstelasi masyarakat modern sekarang, tatanan luhur dari budaya mulai ditabrak dan generasinya menjadi sulit dikendalikan atau “liar”. Fenomena tawuran pelajar, pemerkosaan, bahkan menurunnya budi pekerti dari remaja sekarang adalah dampak nyata yang bisa kita lihat.
Gerakan Ekofemisnisme
Dari carut-marutnya tatanan sosial khususnya yang berkaitan dengan lingkungan, ekologi dan alam memunculkan kesadaran dalam diri perempuan yang pada akhirnya melahirkan paham baru, yaitu ekofeminisme. Ekofeminisme bisa dipandang sebagai anti tesis dari berbagai aliran feminisme. Ekofeminisme lahir dari keprihatinan tergredasinya kestabilan alam dan sosio kultur masyarakat. Ekofeminisme bisa juga difahami muncul dari melemahnya kualitas feminin dalam kosmologi sosial.
Perempuan sekali lagi punya andil besar dalam kosmologi kehidupan, walaupun terkadang ia dipandang remeh dengan perannya, tapi ketika kestabilan ini terganggu tinggal menunggu kehancuran saja. Kehadiran Perempuan bukanlah sekedar sebagai pelengkap karena ia adalah bagian puzzle satu kesatuan, kesadaran inilah yang harusnya mulai tumbuhkan sehingga tidak adanya diskrimanasi dan meremehkan peran satu sama lain.
Editor: Arif Sugeng W
You may like
Opini
BALAIRUNG RONA JELITA DAN LENGARA YANG BERUMAH
Published
6 days agoon
15 April 2026By
Mitra Wacana

Namira Khasna Yuni Asti Azka
Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dam Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta
“Saya malu punya anak seperti kamu!”
Dia berdiri di ambang pintu kamarku. Mengatakannya begitu saja dengan gamblang di sela-sela diamku yang belum genap semalam. Cukup menginterupsi hingga nafasku tercekat. Seolah ada seutas simpul yang mengikat paksa dibelakang tenguk, kepalaku terasa kencang sekali. Badanku gemetar hebat, rasanya seperti duniaku runtuh begitu saja. Aku tak menjawab. Perempuan yang sejak 18 tahun lalu kupanggil mama itu masih juga berdiri di sana.
“Seperti anak tidak punya adab.” Lanjutnya.
Aku masih tak menjawab dan memilih mengalihkan pandangan ke gantungan hijab di balik pintu, menatap susunan kain warna-warni yang tak terlalu rapi itu supaya tak menatap wajahnya. Aku mati-matian menahan agar air mataku tak lolos begitu saja. Mataku sudah panas, pelupuk mataku sudah terasa buram.
“Minta maaf sama Bapak.”
Setelahnya ia pergi tanpa menutup pintu kamarku lagi. Aku berpindah ke belakang pintu, mengganjalnya agar tak ada yang memasuki kamarku lagi. Aku menangis di balik pintu. Aku ingat hari itu aku melewatkan kelas online begitu saja. Tak ada orang lain yang aku hubungi setelah itu. Untuk pertama kalinya siang itu, aku merasa benar-benar tercerabut dari diriku sendiri. Seolah-olah ada versi lain dari aku yang berdiri di sudut kamar, menatapku yang terduduk di lantai dengan mata sembap dan bertanya pelan,
“Jika rumah saja tidak percaya, ke mana lagi kaki ini harus pulang?”
Aku menyadari bahwa di luar sana, dunia masih terus berjalan seperti seharusnya. Suara kendaraan tetap melintas, azan tetap berkumandang, ada pula langkah kaki tegap para petani yang pulang dari ladang. Dunia tidak berhenti hanya karena satu anak perempuan kehilangan tempatnya untuk dipercaya. Barangkali memang begitu cara lenggara menetap tanpa merobohkan atap, tanpa memadamkan lampu, kemudian ia hanya menggeser sedikit rasa aman sampai yang tersisa hanyalah tubuh yang masih hidup tapi tak lagi merasa berumah.
Dari luar, rumah ini tidak pernah tampak seperti rumah yang menyimpan sengkarut. Lantai semennya dingin dan temboknya masih kasar di beberapa bagian, ketika hujan menyerap air dengan sempurna. Namun sejujurnya, terlihat cukup hangat karena di dalamnya penuh orang-orang religius yang haus berdoa. Di halaman depan, berjajar rapi puluhan tanaman dalam pot yang disusun Mama dengan telaten. Ada juga beberapa jenis tanaman merambat yang selalu mendapat pujian dari siapapun yang singgah. Sungguh, balairung yang jelita hingga nyaris tak ada yang melihat bagaimana lenggara memilih berumah di sudut ruangan yang dingin di antara doa-doa khusuk yang mengalun setiap hari. Aku lah sang lenggara.
Aku tak pernah meminta maaf untuk apapun atas hari itu. Hatiku mengeras bak tanah liat yang dijemur matahari. Sesuatu dalam diriku bersikeras mengatakan untuk tidak perlu mengucapkan kata itu padanya. Sejak saat itu pula aku berhenti untuk memanggilnya dengan sebutan Bapak. Perubahan itu tak pernah diumumkan, bahkan kami sudah tak memiliki perdebatan lain yang berarti. Jika butuh bicara, sebisa mungkin aku menghindari panggilan itu.
Kemudian semuanya berjalan lagi seperti biasa. Aku bangun tak terlalu pagi karena selalu terjaga setiap malam, melihat pintu kamarku yang tak memiliki kunci dengan rasa yang tidak aman. Mama dengan kesehariannya yang monoton, para petani juga masih berjalan dengan kaki telanjang mereka setiap pagi. Kadang, langkah kaki itu yang membangunkanku.
Waktu berlalu dewasa, aku mengambil keputusan untuk keluar dan hanya kembali sesekali. Keputusan itu bukanlah hasil dari keberanian yang padu, melainkan akibat dari rasa lelah yang terkumpul perlahan hingga tak mampu kutahan lagi. Aku pergi tanpa benar-benar pergi, masih meninggalkan jejak-jejak kecil yang kadang-kadang membawaku kembali. Setiap kali aku kembali, aku selalu membawa versi diriku yang lebih sepi, yang telah belajar untuk tidak menaruh harapan berlebihan, agar rasa sakit yang dirasakan tidak terlalu dalam.
Di sudut hati kecilku yang tak pernah memberi ruang untuk permintaan maaf, kasih sayangku kepada Mama tetap terjaga. Aku memilih untuk meyakini bahwa di waktu itu ia belum sepenuhnya memahami segalanya meskipun ada sisi lain dalam diriku yang menyadari bahwa mungkin hingga kini pun tak ada yang berbeda. Walau begitu, aku merasa tidak perlu lagi menjelaskan kondisiku. Ada hal-hal yang bila terus dipaksakan untuk dipahami, justru akan kehilangan arti aslinya. Aku tidak ingin lagi kehilangan diriku hanya untuk memastikan bahwa seseorang yang seharusnya memahami dan bisa diminta untuk melakukannya.








