web analytics
Connect with us

Opini

Menjadi Paralegal

Published

on

Dokumentasi P3A SEJOLI Peduli lansia

Oleh Andien (P3A SEJOLI Bondolharjo, Banjarnegara)

Dulu sebelum menikah, saya aktif berorganisasi dan senang belajar. Saya juga bercita-cita untuk aktif di organisasi yang peduli dan bisa membantu sesama.Tapi setelah menikah karena mendapatkan suami dari lain daerah dan saya belum paham betul tentang daerah suami, saya menjadi tidak aktif berorganisasi hanya terlibat dalam Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) itu pun karena saya sebagai istri dari seorang perangkat desa yang wajib mengikuti kegiatan PKK.

Baru di pada bulan April 2016 saya dikenalkan dengan Mitra Wacana WRC dan SEJOLI (Serikat Bondolharjo Peduli) dan saya baru tahu kalau di desa Bondolharjo ada organisasi perempuan yang bernama SEJOLI. Saya jadi ingat dulu ketika awal-awal di desa Bondolharjo pernah mendengar lomba Poster yang diadakan oleh Mitra Wacana WRC. Saat itu saya juga belum ngeh dengan Mitra Wacana WRC dan SEJOLI yang kegiatannya tentang perlindungan dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, hal ini saya ketahui setelah ikut beberapa kegiatan dengan Mitra Wacana WRC.

Saya sering diajak untuk ikut kegiatan dan pelatihan oleh Mitra Wacana WRC, dan yang membuat saya kembali membulatkan tekad untuk aktif di SEJOLI adalah ketika saya ikut pelatihan Paralegal di rumah makan Sari Rahayu Gumiwang. Pada saat itu pelatihannya sangat bagus, menarik dan kita praktek langsung membuat saya menjadi lebih paham tentang hokum dan perlindungan terhadap perempuan dan anak.
Hal yang membuat saya ingat terus adalah setelah saya selesai mengikuti pelatihan Paralegal, saya mendapatkan laporan kasus dari teman saya. Temensaya curhat dan bertanya kepada saya tentang kasus kekerasan seksual yang menimpa putrinya. Ia menanyakan tentang perlindungan terhadap anak korban perkosaan? Apa saja hak-haknya baik dalam hukum, pengadilan, pendidikan, kesehatan dll.

Dari pelatihan Paralegal saya mengetahui bahwa tidak harus seorang pengacara, sarjana hukum yang bisa membantu seseorang yang terlibat kasus hukum, orang biasa pun yang mengerti tentang hokum bisa menjadi Paralegal yaitu orang yang memberikan dampingan hokum bagi korban yang membutuhkan. Kebetulan di pelatihan Paralegal juga memuat hal-hal tersebut, akhirnya saya dengan mudah memberikan informasi kepada teman saya dan tak lup amemberikan advokasi kepada teman saya dengan menghubungkan dengan pihak-pihak terkait.Teman saya juga menanyakan, “Apakah boleh korban mengajukan pindah sekolah dan tetap sekolah?” Saya menjawab: “ Boleh, dan pihak sekolah tidak boleh melarangnya atau mengeluarkan korban dari sekolah bahkan memberikan bantuan kepada korban dalam masa traumatisnya.” Teman saya sangat berterima kasih atas informasi yang saya bagi, dan saya ketahui dia akhirnya berjuang untuk putrinya tersebut.

Saya merasa sangat luar biasa saat itu, saya merasa benar-benar menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dengan ilmu saya. Dan dari sinilah saya yakin bahwa sekecil apapun ilmu yang saya peroleh akan memberikan manfaat yang luar biasa bagi orang lain jika kita memiliki kemauan untuk membagikan dan menolong orang lain.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Merevolusi Cara Kita Melihat Tugas Kuliah

Published

on

Sumber gambar: Freepik

Nurisa Cahya Artika Farah,Mahasiswi semester 3 Program Studi Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia, Fakultas Adab dan Bahasa, Universitas Islam Raden Mas Said Surakarta.

Di dunia perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu menjadi individu yang mandiri, kritis, dan kreatif dalam menghadapi berbagai tantangan akademik. Salah satu tantangan tersebut adalah tugas kuliah yang diberikan oleh dosen sebagai proses pembelajaran. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak mahasiswa justru menganggap tugas kuliah sebagai beban yang membebani pikiran. Mahasiswa lebih fokus pada nilai akhir ketimbang proses belajar yang seharusnya memperkaya pengetahuan dan keterampilan. Fenomena ini menjadi gambaran bahwa sebagian mahasiswa masih memandang tugas secara sempit, tanpa menyadari bahwa melalui tugas inilah kemampuan berpikir kritis serta tanggung jawab perkuliahan dapat terasah.

Banyak kalangan mahasiswa mengeluh akan tugas kuliah yang diberikan, mereka memandangnya sebagai beban yang menumpuk dan hanya sebatas untuk mendapatkan nilai, bukan proses pembelajaran. Hal ini membuat motivasi belajar menurun yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, seperti kurangnya minat, kesulitan konsentrasi, masalah pribadi, maupun kualitas hasil tugas yang tidak mencerminkan pemahaman sebenarnya. Padahal, esensi pendidikan tinggi bukan sebatas mengerjakan tugas, namun membangun cara berpikir kritis dan kreatif mahasiswa. Karena itu, saatnya mahasiswa merevolusi cara pandang terhadap tugas yang dianggap beban menjadi proses pembelajaran yang bermakna.

Perkuliahan mahasiswa sebenarnya tidak hanya belajar dari penjelasan dosen, tetapi juga dari proses mengerjakan tugas. Hal ini sejalan dengan Teori Konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun dari individu berdasarkan pengalaman dan pemahaman. Seperti halnya dalam pemberian tugas kuliah ini mahasiswa tidak hanya menerima ilmu dari dosen, tetapi juga membentuk pemahaman sendiri melalui pengalaman belajar sebelumnya. Dalam konteks ini, tugas kuliah bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai sarana untuk membangun pemahaman terhadap suatu konsep. Misalnya, ketika mahasiswa diminta menulis esai, mereka tidak hanya terpaku dengan teori yang sudah ada, tetapi juga menyusun gagasan atau ide pribadi berdasarkan pemahaman konseptual dan berpikir kritis. Dengan demikian, tugas menjadi penghubung antara pengetahuan dan penerapan.

Namun, faktanya di lapangan masih banyak mahasiswa yang memandang tugas sebagai sesuatu yang dipaksakan untuk semata-mata demi nilai. Hal ini sejalan dengan rendahnya motivasi dalam diri berdasarkan teori Self-Determination. Mahasiswa akan termotivasi jika memiliki kebebasan pilihan dalam menyelesaikan tugas (autonomi), merasa mampu mengerjakan (kompetensi), dan merasa bahwa tugas memiliki hubungan dengan kehidupan mereka (keterhubungan). Dengan demikian, ketika diberi tugas yang memberikan kebebasan, kemampuan, serta keterhubungan, mahasiswa akan melihat tugas bukan sebagai beban, melainkan sebagai bentuk pengembangan diri.

Selain itu, konsep belajar bermakna dari David Ausubel juga relevan dalam konteks ini. Dalam perkuliahan, hal ini berarti tugas yang diberikan seharusnya berasal dari struktur pemikiran yang telah dimiliki mahasiswa. Misalnya, tugas proyek yang menuntut mahasiswa mengaitkan teori dengan pengalaman pribadi. Ketika mahasiswa menemukan keterkaitan tersebut, proses belajar menjadi bermakna. Mereka tidak sedang mengerjakan tugas dosen melainkan sedang menemukan diri dalam proses pembelajaran.

Pandangan teori humanistik juga memperkuat gagasan ini. Dalam pandangan ini, mahasiswa dipandang sebagai individu yang unik dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Tugas kuliah, seharusnya menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengekspresikan diri, mengeksplorasi nilai-nilai pribadi, dan mengembangkan potensi secara utuh. Tugas tidak hanya mengukur hasil akhir berupa angka, tetapi juga menilai proses berpikir, kreativitas, den refleksi diri mahasiswa.

Sebagai mahasiswa, saya kerap melihat beberapa mahasiswa bahwa tugas baru benar-benar dipahami maknanya setelah dikerjakan, bukan saat materi disampaikan oleh dosen. Dari tugaslah mahasiswa belajar berpikir kritis, mampu mengelola waktu, dan bertanggung jawab. Hal ini menunjukkan bahwa tugas kuliah sejatinya memiliki peran penting dalam membentuk kualitas mahasiswa, asalkan dipahami dan dijalani dengan cara pandang yang tepat.

Masalahnya sistem pendidikan kita masih berorientasi pada hasil bukan proses. Banyak mahasiswa mengerjakan tugas hanya untuk mendapatkan nilai bukan karena ingin memahami makna apa yang mereka pelajari. Oleh karena itu, perlu adanya perubahan paradigma, baik dari pihak dosen maupun mahasiswa. Merevolusi cara pandang terhadap tugas kuliah berarti menempatkan kembali tugas sebagai bagian dari proses pembelajaran bukan sebagai beban mahasiswa. Ketika mahasiswa mulai melihat tugas sebagai ruang pengembangan diri mereka akan lebih bersemangat, produktif, dan berdaya saing. Tak hanya mahasiswa, dosen pun akan lebih mudah menilai kualitas pemahaman mahasiswa. Dengan demikian, revolusi ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas hasil belajar, tetapi juga membentuk generasi mahasiswa yang berpikir kritis, reflektif, dan siap menghadapi tantangan di kehidupan nyata. Hal yang paling berharga dari tugas kuliah bukan hanya tentang nilai yang berupa angka melainkan proses belajar yang akan menambah pemahaman.

 

 

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending