Opini
KEBERANIAN ADALAH DOA DARI RASA TAKUT
Published
8 years agoon
By
Mitra Wacana
Oleh Saminah (Ketua P3A SEJOLI)
Nama saya Saminah, seorang ibu rumah tangga biasa dari keluarga yang biasa saja, bukan istri dari seorang pejabat atau perangkat desa. Sejak kedatangan MitraWacana WRC di desa saya, saya merasa mendapatkan sebuah kesadaran baru tentang banyak hal, mendidik anak, berorganisasi dan terutama tentang pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Mitra Wacana WRC biasa menyebut kegiatan tersebut dengan istilah “sekolah”. Pada awalnya yang ikut sekolah dengan Mitra Wacana WRC sangat banyak, karena hal tersebut merupakan hal baru di desa kami. Namun, justru ketika kita mulai membentuk organisasi yang kami namakan “SEJOLI” (Serikat Bondolharjo Peduli) banyak ibu-ibu yang mulai tidak ikut atau tidak aktif dalam kegiatan Mitra Wacana WRC. Ada yang beralasan karena sibuk dengan pekerjaan, sibuk mengurus anak, tidak diperbolehkan suami, tidak punya transportasi atau kendaraan, pulangnya selalu sore dan lain-lain. Alasan-alasan tersebut yang membuat Sejoli akhirnya dari waktu ke waktu ditinggalkan oleh anggotanya. Ditambah dengan kurangnya dukungan dari pemerintah desa Bondolharjo membuat kami kesulitan dalam memajukan Sejoli.
Pada saat itu, melihat banyak teman-teman anggota Sejoli yang berguguran saya kepikiran untuk mengundurkan diri juga.Tapi setelah dipikir-pikir, “kalau saya keluar…siapa yang akan mengaktifkan Sejoli?”. Seiring dengan kebimbangan saya, pada tahun 2016 ada pendamping baru yang menurut saya mempunyai semangat untuk membuat Sejoli lebih hidup dan mulai bergerak.
Di akhir tahun 2016, Sejoli mengadakan pergantian kepengurusan. Saya terpilih menjadi ketua Sejoli periode 2017 – 2019. Saya merasa tidak pantas menjadi ketua, pertama karena saya merasa masih bodoh, saya kurang pandai berbicara dan tidak memiliki keberanian dibandingkan dengan ibu-ibu anggota Sejoli yang lain. Saya sudah menyampaikan kepada ibu-ibu yang lain bahwa saya tidak bisa menjadi seorang ketua, sebaiknya memilih yang lainnya yang lebih pintar dibandingkan saya. Namun, forum tetap memilih saya sebagai ketua dengan kekurangan saya.
Meski secara kesepakatan forum saya terpilih sebagai ketua, tapi saya merasa terbebani sebagai ketua, merasa tidak bisa menjadi ketua yang baik karena tidak bisa ngomong atau berbicara di depan umum dengan baik. Menurut saya seorang ketua harus bisa menjadi pembicara yang bagus, juru bicara organisasi, menjadi contoh bagi anggotanya dan memiliki kemampuan serta ilmu yang lebih bagus dibandingkan yang lain. Itulah beban yang saya rasakan ketika dipilih menjadi ketua Sejoli.
Seiring berjalannya waktu, lama-kelamaan saya menyadari bahwa apapun yang terjadi, “saya adalah ketua Sejoli”. Kemudian saya berusaha memunculkan keberanian untuk mengambil peran sekemampuan dan sekeberanian saya.Saya terus mencoba untuk berbicara yang bagus meski setiap kali saya berbicara saya sering belepotan cara ngomong dan pen yampaiannya tapi karena terus mendapat semangat dari pendamping, saya mencoba sekuat tenaga untuk mulai dan terus berbicara ketika mendapat tugas menjadi pembawa acara, sosialisasi ke sekolah dan sosialisasi ke dusun-dusun. Bagi saya, saat ini tidak ada langkah mundur, yang ada langkah maju meskipun perlahan.
You may like
Opini
Kebiasaan Untung Sendiri dan Rusaknya Aturan Bersama
Published
2 weeks agoon
23 February 2026By
Mitra Wacana

Vinsensius, S.Fil., M.M. akademisi dan penulis kajian filsafat moral, budaya, dan ekonomi perilaku. Aktif mengajar di perguruan tinggi serta menulis opini populer.
Ada tipe orang yang selalu punya alasan. Ia melanggar aturan sedikit, tapi merasa itu wajar. Ia mengambil keuntungan kecil, tapi merasa tidak merugikan siapa pun. Baginya, yang penting urusannya beres dan dirinya aman.
Masalahnya, pola seperti ini sering dibungkus dengan kalimat, “Sudah biasa begitu.” Kebiasaan akhirnya menjadi tameng. Orang tidak lagi bertanya apakah tindakannya benar, melainkan apakah tindakannya umum dilakukan.
Di titik ini, kita perlu belajar dari Immanuel Kant. Ia bukan filsuf yang bicara rumit untuk membingungkan orang. Inti pesannya sederhana: lakukan hanya tindakan yang pantas dilakukan oleh semua orang.
Kant percaya bahwa moralitas tidak ditentukan oleh kebiasaan atau keuntungan. Moralitas ditentukan oleh kewajiban. Artinya, kita bertindak benar bukan karena takut ketahuan, bukan karena ingin dipuji, dan bukan karena ingin untung. Kita bertindak benar karena itu memang benar.
Coba bayangkan satu hal sederhana. Jika semua orang menerobos lampu merah karena merasa jalan sedang sepi, apa yang akan terjadi? Mungkin awalnya tidak apa-apa. Tapi jika semua orang berpikir sama, kekacauan tinggal menunggu waktu.
Begitu juga dalam kehidupan sosial. Jika semua pegawai memanipulasi laporan sedikit saja, jika semua pejabat mengambil keuntungan kecil saja, jika semua warga mencari celah aturan demi dirinya, lama-lama sistem akan rapuh.
Kant menyebut prinsipnya sebagai imperatif kategoris. Jangan takut dengan istilahnya. Maksudnya begini: sebelum bertindak, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah saya rela jika semua orang melakukan hal yang sama?”
Jika jawabannya tidak, maka kemungkinan besar tindakan itu tidak bermoral. Sederhana, tapi tegas.
Masalah terbesar manusia modern bukan tidak tahu aturan. Kita tahu aturan. Kita tahu mana yang benar dan mana yang salah. Masalahnya, kita sering merasa diri kita pengecualian.
Kita merasa pelanggaran kecil tidak akan berdampak besar. Kita berkata, “Ah, cuma saya saja.” Padahal, setiap orang yang berkata demikian sedang menambah satu batu kecil pada bangunan ketidakadilan.
Lebih berbahaya lagi, kebiasaan untung sendiri ini membentuk karakter. Awalnya mungkin kecil. Lama-lama menjadi pola. Dan pola itu akhirnya membentuk pribadi yang selalu menghitung keuntungan sebelum menghitung kebenaran.
Kant juga mengingatkan bahwa manusia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai alat. Jika kita melanggar aturan demi keuntungan pribadi, sering kali kita menjadikan orang lain sebagai sarana. Kita memakai sistem, memakai kepercayaan orang, bahkan memakai hukum untuk kepentingan diri.
Mungkin secara hukum kita tidak tertangkap. Tapi secara moral, kita sudah menggerogoti kepercayaan bersama. Dan tanpa kepercayaan, masyarakat tidak akan bertahan lama.
Lalu apa solusinya? Apakah kita harus menjadi orang yang kaku dan terlalu idealis? Tidak. Moralitas bukan soal menjadi sempurna. Moralitas soal konsisten.
Pertama, biasakan bertanya sebelum bertindak. Latih diri dengan satu pertanyaan sederhana: “Bagaimana jika semua orang melakukan ini?” Pertanyaan ini bisa menjadi rem yang kuat.
Kedua, bedakan antara kebiasaan dan kebenaran. Tidak semua yang lazim itu benar. Jangan jadikan kalimat “sudah biasa” sebagai pembenaran. Justru kebiasaan perlu diuji ulang secara berkala.
Ketiga, bangun keberanian untuk berbeda. Jika lingkungan terbiasa mencari celah, orang yang taat aturan sering dianggap aneh. Tapi perubahan selalu dimulai dari orang yang berani tidak ikut arus.
Keempat, mulai dari hal kecil. Disiplin waktu, jujur dalam laporan, tidak memotong antrean, tidak memanfaatkan jabatan untuk keluarga. Tindakan kecil yang konsisten jauh lebih kuat daripada pidato moral panjang.
Kelima, bangun budaya saling mengingatkan, bukan saling membiarkan. Banyak pelanggaran bertahan karena semua orang diam. Padahal, diam sering kali berarti setuju.
Kita mungkin tidak bisa mengubah sistem besar sendirian. Namun kita bisa memastikan bahwa diri kita tidak ikut merusaknya. Itu sudah langkah penting.
Hidup bersama membutuhkan aturan. Aturan membutuhkan kepercayaan. Dan kepercayaan hanya bisa bertahan jika orang bertindak bukan demi untung sendiri, melainkan demi kebaikan bersama.
Menjadi orang yang berpegang pada kewajiban memang tidak selalu menguntungkan secara cepat. Tapi dalam jangka panjang, itulah fondasi masyarakat yang adil dan kuat.
Pada akhirnya, peradaban tidak hancur karena satu kejahatan besar. Ia runtuh karena terlalu banyak orang merasa wajar untuk sedikit saja tidak jujur.
Di situlah kita perlu tegas pada diri sendiri. Bukan karena takut dihukum, melainkan karena kita ingin hidup dalam masyarakat yang bisa dipercaya. Dan itu selalu dimulai dari pilihan pribadi yang sederhana.










