Berita
Konstruksi Perempuan dalam Media Massa
Published
7 years agoon
By
Mitra Wacana
Oleh: Septia Annur Rizkia
Dinamika kehidupan tidak lepas dari campur tangan para pamong kekuasaan, sebagian besar bertangan dua. Pada akhirnya semua kepentingan dikaitkan dengan media yang ujung-ujungnya ada orang dalam yang memegang peran sebagai pengendali. Artinya, hubungan antara kelompok mayoritas yang mengontrol dan menguasai kelompok minoritas, namun bukan dalam konteks media sebagai kontrol sosial. Fakta di media dikonstruksi para media. Apa yang tertulis dan yang diberitakan oleh media bukanlah realitas yang sebenarnya terjadi.
Selain sebagai hiburan, fungsi media adalah sebagai edukasi dan kontrol sosial. Akan tetapi, di dalam media, perempuan sering ditampilkan menjadi kelompok minoritas yang termarjinalkan, sedangkan laki-laki menjadi kelompok yang mendominasi peran. Pertanyaannya, sejauh mana media bisa bertindak adil atas berbagai kepentingan yang dimediasinya? bagaimana media massa menempatkannya secara proporsional?.
Jawabannya terkadang tak begitu jelas. Belum ada Undang-undang yang tertuang untuk itu. Tidak ada aturan yang mengkriteriakan bahwa seseorang harus mendapat sekian kalimat untuk dimuat di media cetak, berapa menit di televisi dan harus mendapat intonasi yang bagaimana dalam wawancara di media. Tidak hanya sekedar itu, masalahnya bukan hanya terletak pada seberapa media bertindak adil, tapi sejauh mana segala aktivitas yang di mediasi bisa selaras dengan empat fungsi media massa. Memberikan informasi, pendidikan, hiburan, dan melakukan kontrol sosial. Karena peran aktif media adalah sebagai penyambung lidah rakyat.
Peran dan posisi perempuan di dalam media menjadi ter-subordinat karena mediasi dari media. Seolah-olah stereotip bahwa perempuan hanya bertugas di wilayah domestik telah terkonstruk dalam benak masyarakat secara umum. Baik dalam media cetak maupun media visual banyak yang telah mencitrakan perempuan adalah kaum lemah yang berada di bawah kendali laki-laki. Perempuan tidak bisa berdiri tegak tanpa peran aktif seorang lelaki yang mendorongnya dari samping maupun dari belakang. Fenomena bias gender yang ada di media telah terbentuk dan terstruktur dimana-mana.
Stereotip bahwa perempuan adalah makhluk kedua setelah laki-laki membuat posisi perempuan menjadi objek sex dan laki-laki yang berperan sebagai subjeknya. Politik pemberitaannya pun kurang adanya keberpihakan pada perempuan. Sedang jurnalis laki-laki lebih dominan dibanding jurnalis perempuan. Sehingga perempuan lebih sulit untuk menyuarakan anspirasinya yang berkaitan dengan maraknya media yang mengeksploitasi tubuh perempuan secara terus-menerus. Sedang karakter media di Indonesia yang masih berkuasa saat ini adalah sistem kapitalis.
Ironi, fungsi media berpindah haluan dan terkontaminasi pada orientasi kepentingan bisnis dan politik kekuasaan pada pemilik modal. Pemberitaan pada kasus-kasus seperti kekerasan sex, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan sex dan segala yang berbau sex selalu mengarah pada perempuan. Sehingga kejadian yang sering terulang-ulang di pemberitaan media ini menjadi konsumsi masyarakat yang sudah biasa dan menjamur dari dulu sampai sekarang. Perempuan di pihak yang selalu disalahkan akibat label diberikan oleh media.
Jika ada pemberitaan pemerkosaan, wanita sering ditampilkan sebagai sumber peristiwa, salah satunya penggoda, dan lain-lain. Kondisi seperti inilah yang membentuk identitas gender, yang dulunya perempuan maupun laki-laki belum mengetahui identitas mereka. Tapi melaui kekuasaan komunikasi medialah yang membentuk dan memperkenalkan identitas bahwa laki-laki selalu maskulin dan perempuan haruslah feminin. Seolah-olah hukum alam yang sudah tidak bisa di rubah.
Banyak penulis jumpai dari berbagai iklan yang menempatkan perempuan pada perbudakan sex maupun untuk menarik kalangan laki-laki. Media pun memberi gambaran, perempuan belum sempurna jika belum bisa menarik perhatian laki-laki melalui kecantikan fisiknya. Pencitraan perempuan di layar televisi membentuk persepsi masyarakat akan nilai kecantikan seorang perempuan. Perempuan dikatakan cantik jika memiliki kulit yang putih, tubuh langsing, hidung mancung, mempunyai rambut yang lurus dan selalu rapi.
Citra perempuan dalam media yang sedemikian rupa berhasil membius kesadaran masyarakat, sehingga mereka berbondong-bondong untuk mempercantik diri dengan segala macam obat pemutih, obat pelangsing, maupun segala macam bentuk perawatan rambut. Itulah salah satu komunikasi media yang telah membentuk identitas sosial yang menjadikan bias gender. Media telah sukses membentuk opini publik yang telah membeku di otak para penggiat media bahwasanya laki-laki itu selalu berada pada ranah yang rasional sedang perempuan hanya bergumul pada kepuasan emosionalnya saja.
Tak jarang pula penulis temui dalam iklan, perempuan dengan mengenakan pakaian seksi yang menonjolkan bagian-bagian tubuhnya menjadi minat para pemilik industri media untuk menjadi sponsor suatu produk. Bahkan, iklan motor besar seperti GP, yang sifatnya maskulin dan khususnya untuk menarik minat para laki-laki, tapi mengapa yang menjadi objek dari sponsor itu adalah perempaun yang mengenakan rok mini bahkan dengan belahan dada yang terbuka. Secara tidak langsung, media menggambarkan bahwa perempuan hanyalah objek dari pemuas nafsu yang harus di miIiki oleh laki-laki seperti halnya iklan motor yang menganalogikan perempuan itu bersifat matrealistik. Yang bisa di dapatkan dengan nilai harga yang lebih. Identitas atau gender perempuan dan laki-laki adalah bentukan dari adat dan budaya yang telah dimediasi oleh berbagai media, sehingga mengakar dan membentuk suatu realitas sosial yang dipercayai kebenarannya.
Film-film maupun sinetron di layar televisi juga demikian,menempatkan perempuan hanya pada pekerjaan yang bergantung pada laki-laki. Padahal, realitasnya banyak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga dan terjun langsung ke masyarakat,serta para perempuan yang berkontribusi bagi pembangunan bangsa. Sayangnya fakta itu tidak terlalu menarik untuk menjadi sorotan media. Pekerjaan yang pas dan cocok untuk perempuan juga sudah dikonstruksi oleh media. Misal sebagai sekretaris, asisten, maupun mengurusi tempat-tempat domestik dan menjadi pelayan suatu toko milik swasta.
Secara garis besar penulis menyimpulkan, posisi perempuan dalam media massa belum mendapat hak atas keadilan atau yang kesetaraan gender, baik didalam media televsi, radio, hp, majalah, tabloid maupun internet. Banyak gambar-gambar pornografi seolah-olah menjadi legal di berbagai akses media terutama internet. Kehadiran perempuan, seakan-akan hanya untuk menarik perhatian publik sebagai penglaris suatu pasar produksi. Legitimasi perempuan juga perlu dipublikasikan, baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan lain halnya. Perempuan masih dianggap sebagai warga negara kelas dua, yang terstigma pada masyarakat, bahwa perempuan secara kodratnya itu hanya mengurusi dapur, sumur, dan kasur.
Sejauh ini, penggambaran publik terhadap status perempuan menjadikannya tidak sesuai dengan peran yang semestinya. Media sebagai kontrol sosial harusnya bisa melakukan kontrol terhadap masyarakat luas. Media tidak hanya mempertontonkan tubuh perempuan saja, tapi juga mengarah pada kebutuhan intelektual bagi anak bangsa. Bangsa yang besar ini membutuhkan generasi-generasi yang hebat baik dalam wacana maupun gagasan. Peran perempuan juga tak lekang dari besarnya bangsa ini. Sejauh itu, perlu ditanam kesadaran bagi masyarakat baik laki-laki maupun perempuan atas pentingnya peran dan andil mereka dalam membangun peradaban bangsa ini. Penulis berharap agar masyarakat bisa menyaring tayangan-tanyangan yang dipertontonkan di media massa, terutama saling bekerja sama untuk mengikis labeling yang mendeskriminasi peran sosial perempuan.
You may like
Berita
Bioskop Rakyat Fest #03 Sukses Digelar di Demangrejo: Padukan Seni Budaya, Kampanye Anti-Perdagangan Orang, dan Pemberdayaan Desa
Published
5 hours agoon
24 August 2026By
Mitra Wacana
KULON PROGO, 22 AGUSTUS 2026 – Padukuhan Demangan, Kalurahan Demangrejo, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, kembali sukses menggelar perhelatan akbar tahunan Bioskop Rakyat Fest #03 pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Mengusung tema Demangan Bersatu Indonesia: Bioskop Rakyat Fest #03 Sinergi Desa Kolaborasi & Karya dari Karang Taruna, Akademisi, dan Organisasi Masyarakat Sipil. Festival ini menjadi ajang unjuk kreativitas warga sekaligus wahana edukasi yang kuat mengenai pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Semangat Nasionalisme dalam rangkaian Kemerdekaan RI ke-81.
Acara yang dipusatkan di halaman rumah Dukuh Demangan, Bapak Heriyanto, ini diselenggarakan oleh Karang Taruna Krida Remaja dan Demangan Media Channel (DMC), yang berkolaborasi erat dengan Program Pengabdian Masyarakat Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan lembaga swadaya masyarakat Mitra Wacana.
Dari Panggung Hiburan hingga Pesan Moral Kemanusiaan Bioskop Rakyat Fest #03 menghadirkan beragam rangkaian acara lintas generasi yang sangat menghibur, mulai dari penampilan Tari Semut oleh anak-anak TK dan PAUD, Tari Perahu Layar, hingga aksi panggung “Nyentrik Demangan Squad” yang dibawakan oleh ibu-ibu Padukuhan Demangan.
Puncak kesenian malam itu adalah pementasan drama teater bertajuk “Surat Soko Tahun 2045” garapan Wulan Karangtaruna Krida Remaja Padukuhan Demangan sekaligus Mahasiswi ISI Yogyakarta. Drama ini sukses memukau dan menyentuh hati penonton dengan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga semangat gotong royong, guyub rukun, dan kepedulian antarwarga di tengah arus modernisasi dan individualisme yang semakin deras. Yang dibawakan pemuda-pemudi karang taruna Demangan dengan koreografi, visual dan tata suara profesional.
Kampanye “Menungso Ora Didol” (Manusia Tidak Untuk Dijual) Lebih dari sekadar hiburan, Bioskop Rakyat Fest #03 menjadi medium strategis penyampaian edukasi masyarakat. Bekerja sama dengan Mitra Wacana, panitia memutar karya film lokal dari Demangan Media (DMC) yang mengangkat isu toleransi dan pencegahan perdagangan orang bagi calon pekerja migran.
Robi Setiyawan, perwakilan dari Mitra Wacana dalam sambutannya menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap iming-iming lowongan kerja ke luar negeri dengan gaji fantastis. “Program kita adalah pencegahan perdagangan orang, supaya anak-anak muda kita terhindar dari penipuan calo lowongan kerja ilegal. Intinya, menungso ora didol (manusia tidak untuk dijual). Jika ada tawaran pekerjaan ke luar negeri, pastikan untuk mengecek legalitasnya ke kelurahan atau Pak Jogoboyo terlebih dahulu, jangan berangkat secara unprosedural,” tegas Robi.
Sinergi dan Kemandirian Desa Penggagas Bioskop Rakyat Fest #03, Aji Saputra sekaligus Jogoboyo Kalurahan Demangrejo, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah mendukung jalannya acara. “Terima kasih kepada Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada dan Mitra Wacana yang terus mendukung dan mendampingi, serta seluruh warga Padukuhan Demangan. Harapan kami, melalui ajang ini, pemuda-pemudi Demangan dapat terus berprestasi dan membawa hal positif bagi desa kita,” ujarnya.
Ajang ini juga menjadi bukti keberhasilan pendampingan Sekolah Vokasi UGM dalam mengedukasi warga terkait manajemen acara (event management) dan pemasaran UMKM. Sepanjang acara, berbagai stand UMKM lokal Demangan turut meramaikan panggung dan menghidupkan roda ekonomi warga, menjadikan Bioskop Rakyat ini sepenuhnya mandiri dan berdaya.
Menutup kemeriahan malam, Bioskop Rakyat Fest #03 memberikan kejutan inovatif berupa suguhan musik pamungkas dari DJ VWXYZ dan DJ Sastro (Sastrologi). Suguhan ini membuktikan bahwa kreativitas dan acara tingkat dusun mampu dikemas secara profesional, kreatif, dan kekinian.








