Opini
Sebuah Catatan Kecil di Bulan Ramadhan
Published
10 years agoon
By
Mitra Wacana
Oleh Astriani
Ramadhan, adalah bulan yang dinantikan oleh umat Islam sedunia. Sebulan penuh umat Islam menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan. Idealnya, ramadhan sebagai bulan untuk meningkatkan kualitas keimanan terhadap sang khaliq, sebagai salah satu bentuk meningkatnya spiritualitas, atau dengan bahasa lain media memperbaiki hubungan dengan Tuhan. Mendekatkan diri kepadaNya saya pandang mampu meningkatkan kualitas keimanan. Selain dengan Tuhan, sebagai manusia kita juga perlu selalu membangun hubungan dengan sesama, dengan harapan mampu meningkatkan kepekaan kita dalam ber-toleransi, mampu menghargai dan bersedia menjalin silaturahmi.
Fenomena yang marak terjadi, ramadhan kerap identik dengan kenaikan harga yang disebabkan adanya peningkatan jumlah konsumsi masyarakat. Pola makan yang berubah saat berpuasa, tanpa disadari dapat membuat “kalap” manakala mempersiapkan dan menyantap makanan saat dan setelah berbuka. Kita dapat melihat dengan jelas, ada sebagian dari kita menjadikan berbuka puasa sebagai ajang balas dendam, setelah seharian penuh menahan haus dan lapar. Saya khawatir apabila hal ini yang terjadi, maka hakikat puasa sebenarnya tidak akan pernah tercapai, yaitu memahami dan mampu mengelola nafsu (amarah dan semua hal yang membatalkan puasa).
Ketika kita tengah menjalankan puasa, ada baiknya tidak “menuntut” orang lain agar menghargai orang yang sedang berpuasa dengan cara-cara yang tidak bijaksana. Saya memiliki keyakinan bahwa ketika kita sudah memiliki niat dan tekad yang kuat untuk berpuasa, godaan dalam bentuk apapun dapat kita lewati. Oleh karenanya semangat dan ikhlas menjalani puasa saya pandang sebagai salah satu kuncinya.
Tampak jelas dapat kita saksikan, di tengah masyarakat kita masih ada budaya buka bersama, pembagian Tunjangan Hari Raya (THR) dalam bentuk parcel membuat kita harus menyiapkan anggaran yang tidak sedikit. Puasa yang semestinya mengajarkan kepada kita untuk berperilaku hemat, mampu memilah-memilih, malah mejadi sebaliknya, yaitu makin melambungnya pengeluaran untuk belanja. Bukankah ini bukan esensi Ramadhan?
Berikut ini ada beberapa catatan dalam mensikapi kecenderungan naiknya belanja dalam bulan ramadhan, yaitu:
1. Membuat perencanaan budget, bedakan antara kebutuhan dan keinginan
2. Sesuaikan kebutuhan dengan kemampuan
3. Prioritaskan keperluan sesuai perencanaan
4. Mampu melakukan kontrol
Sumber: Disarikan dari talkshow Mitra Wacana WRC di Radio Sonora FM Yogyakarta pada Senin (20/6/2016)
You may like
Opini
Pecinta Pedas Yuk Merapat: Cobain Mangut Kepala Manyung Yang Lezat, Dijamin Nagih
Published
1 week agoon
5 May 2026By
Mitra Wacana
Oleh Eka Lestari
Penggemar ikan udah pernah nyobain kuliner yang satu ini belum? Namanya mangut kepala manyung, kuliner sedap dengan cita rasa yang khas. Mangut kepala manyung merupakan hidangan unik dari pesisir Utara Jawa Tengah. Kuliner ini bisa dibilang legendaris dan jadi andalan di Kota Semarang. Mangut kepala manyung adalah salah satu hidangan khas Semarang. Konon, makanan ini sudah ada sejak 1960-an. Berakar dari budaya kuliner Pantura Jawa Tengah, dan banyak ditemukan di Kota Atlas dan sekitarnya.
Sesuai namanya, hidangan ini berisi kepala ikan manyung, yaitu ikan laut yang termasuk dalam kelompok ikan berkumis atau famili Ariidae. Bentuknya seperti ikan lele, tapi ukurannya lebih besar. Ikan manyung punya daging yang tebal dan cenderung tidak begitu amis.
Ciri khas dari hidangan ini menggunakan kepala ikan manyung yang sudah diasap. Rasanya pedas bercampur kuah santan yang gurih. Uniknya, mangut kepala manyung punya aroma begitu khas yang berasal dari proses pengasapan ikan yang dilakukan secara tradisional.
Teknik pengolahannya sangat menarik. Sebelum dimasak menjadi hidangan lezat, kepala ikan manyung diasap terlebih dahulu (dengan kayu atau tempurung kelapa), tujuannya untuk menciptakan aroma smoky yang meresap ke dalam daging. Selain itu, pengasapan dilakukan sebagai cara pengawetan alami. Dengan metode pengasapan tersebut, bisa mengurangi kadar air dan mengubah tekstur kulit menjadi mengkilap.
Hidangan ini juga kaya akan rempah, jadi bumbunya terasa medok. Hal itu bisa dirasakan dari kuahnya yang kental dan berbumbu, terdiri dari kunyit, cabai, kencur, jahe, ketumbar, daun salam, lada, dan santan yang menonjolkan aroma gurih, dan sedikit asam. Kombinasi rempah tersebut menciptakan kuah yang pedas dan enak di lidah. Dagingnya melimpah dan ukurannya yang besar menjadikannya sebagai kuliner pantura. Rasanya juara dan porsinya yang tidak seperti biasanya, dianggap oleh sebagian orang sebagai kuliner mewah.
Kini, mangut kepala manyung jadi salah satu kuliner Semarang yang sering diburu oleh wisatawan. Rasanya yang khas dan porsinya yang menyenangkan, membuat hidangan ini jadi primadona oleh beberapa kalangan.
Kalau kamu mampir ke Kota Semarang, ada salah satu warung makan yang menyajikan hidangan tersebut yaitu Mangut Kepala Manyung Bu Fat. Tempatnya sering didatangi wisatawan dan terkenal di kalangan pecinta kuliner.
Lokasinya sudah punya beberapa cabang yaitu di Jalan Ariloka, Krobokan, Kecamatan. Semarang Barat, Kota Semarang dan Jalan Sukun Raya No. 36, Banyumanik, Semarang.
Yuk guys kalau kamu main ke Semarang, cobain mangut kepala manyung. Dijamin bakal ketagihan deh..








