Rilis
Setiap Anak Berhak Mendapatkan Perlindungan
Published
10 years agoon
By
Mitra Wacana
Mitra Chatting
Tema Pendidikan Anak
Menurut Astriani, staff divisi pendidikan publik Mitra Wacana Women Resource Center (WRC) menyatakan bahwa setiap anak berhak mendapatkan perlindungan. Pernyataan ini terungkap dalam sesi wawancara pada Jum’at (17/6/16) di kantor Mitra Wacana WRC, Gedongan Baru N0 42 RT 006 RW 43 Pelemwulung Banguntapan, Bantul 55198. Berikut ini adalah petikan wawancara Sophia dengan Astriani.
Sophia: Silahkan anda perkenalkan dulu, siapa nama anda? Di Mitra Wacana bagian apa?
Astriani: Terima kasih. Saya Astriani, saya di Mitra Wacana di bagian divisi penyidikan publik.
Sophia: Sudah berapa lama kerja di sini?
Astriani: Saya bergabung dengan Mitra Wacana dari 2010, pertama kali di Mitra Wacana sebagai relawan untuk mengelola data. Sampai sekarang sudah beberapa kali mengalami pergantian divisi. Saya pernah di divisi support data, media, sekretaris dan saat ini di divisi pendidikan publik.
Sophia: Kenapa mbak Astri bersedia menjadi pegiat Mitra Wacana?
Astriani: Di Mitra Wacana kita bisa belajar banyak, apa itu gender bagaimana mencegah kekerasan seksual, terutama untuk perempuan anak dan kaum marjinal. Kita juga bisa belajar cara mengenali unsur perdagangan orang (trafficking) serta bagaimana melakukan pencegahannya. menarik sekali ketika kita bisa bergabung bersama Mitra Wacana untuk itulah kenapa saya sampai saat ini masih bertahan dan tertarik mendalami isu perempuan dan anak.
Sophia: Menurut anda apa itu pendidikan anak?
Astriani: Menurut saya, pendidikan itu suatu pembelajaran yang diberikan untuk anak-anak tetapi caranya adalah kita memberikan stimulasi atau memberikan rangsangan kepada anak karena itu nanti bisa sebagai upaya persiapan pendidikan lanjutan bagi anak baik itu kesiapan aspek fisik kemudian psikis kemudian motorik. Kemudian aspek sosialnya.
Sophia: Kenapa mbak Astri tertarik dengan pendidikan Anak?
Astriani: Pengalaman saya selama ini, karena dunia anak itu sangat menarik. Unik sekali. Banyak sekali kejutan yang diberikan oleh anak saat kita berinteraksi dengannya. Setiap hari berkembang pemikirannya dan pertumbuhannya jadi saya sangat tertarik dengan dunia anak.
Sophia: Menurut mbak Astri apa Prinsip Pendidikan Anak?
Astriani: Ada beberapa catatan yang saya ketahui mengenai prinsip pendidikan anak, yaitu:
1. Berorientasi pada kebutuhan anak-anak. Sebagai orang dewasa kita hanya memberikan rasangan dan dorongan untuk perkembangannya.
2. Belajar melalu bermain, anak bisa bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan dan mengambil kesimpulan
3. Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk anak, sehingga anak nyaman untuk belajar. Lingkungan yang aman, nyaman, dan sehat
4. Mengembangkan berbagai kecakapan hidupnya. Ini dengan proses pembiasaan. Sehingga anak bisa disiplin, mandiri dan belajar bertanggung jawab
5. Menggunakan berbagai media yang edukatif dan menarik. Itu bisa kita siapkan atau dengan mengajak anak belajar di lingkungan sekitar.
6. Dilaksanakan secara bertahap dan berulang supaya anak mudah memahami
Sophia: Apa saja hak anak? Mbak Astri bisa mengelaskan?
Astriani: Secara umum, kami memahami ada empat hak anak
1. Hak hidup, anak punya hak hidup sejak dalam kandungan
2. Hak tumbuh kembang, anak dibiarkan untuk bisa tumbuh dan berkembang sesuai perkembangan usianya
3. Hak perlindungan, orang dewasa memberikan perlindungan untuk anak supaya anak tidak mengalami kekerasan
4. Hak partisipasi, anak didorong untuk bisa menyampaikan pendapatnya. Mengeluarkan aspirasinya. Dan ketika anak sedang berbicara kita harus mendengarkannya
Sophia: Kenapa anak perlu dilindungi dari kekerasan, khususnya kekerasan seksual?
Astriani: Karena, menurut saya mereka (anak-anak) belum bisa melindungi dirinya sendiri seperti orang dewasa, kita harus melindungi anak tersebut terutama dari bahaya kekerasan seksual, maupun kekerasan yang lain. Kita bisa mulai mengajarkan anak untuk bisa sensitive (peka) ketika ada kekerasan. Ketika ada orang asing yang memberikan permen misalnya, kita bisa ajarkan anak untuk menolak/waspada. Kita juga bias memberikan pengetahuan kepada anak untuk berteriak ketika ada orang yang tidak dikenal mencoba menyentuh bagian tubuhnya
Sophia: Apa yang dilakukan Mitra Wacana untuk mencegah kekerasan terhadap anak?
Astriani: Mitra Wacana melakukan kampanye untuk pencegahan kekerasan seksual bagi perempuan dan anak. Hal itu dilakukan dengan sosialisasi ke sekolah–sekolah dan juga mengadakan diskusi bersama orang tua anak untuk belajar apa itu kekerasan seksual dan cara pencegahannya.
Sophia: Apa yang anda pikirkan tentang anak dan pendidikan anak?
Astriani: Biarkan anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan usianya. Sebagai orang dewasa tugas kita hanya memfasilitasi anak untuk bisa tumbuh dan berkembang secara maksimal.
You may like


Dilruba Tarfan
Interns from HAN University, Dutch
Rural area in Jogja, Salamrejo village, we have conducted women empowerment awareness, setting boundaries and yoga session for women group P3A Rengganis from Salamrejo village, P3A Srikandi from Sentolo village, and P3A Putri Arimbi from Demangrejo village.
Women’s ability to express their needs and set personal boundaries is closely influenced by cultural values such as being quiet or not asking too many questions is shown as respect, and not causing a problem. These norms can make direct communication of personal limits challenging, particularly in family or community settings where maintaining good relationships is highly valued.
In our work, as Mitra Wacana we aim to be guided by the voices and lived experiences of the women we engage with. Since our activities are directed towards them, it is essential that
their input shapes the way we design and deliver our sessions. When women face challenges, our intention is to support them in recognising and addressing these in a safe and respectful way.

Many women initially experience speaking up as something associated with fear, judgement, or being perceived as disrespectful. There is often a belief that confidence is a prerequisite for expression, and that needs should only be communicated once a certain level of confidence has already been achieved. In addition, expressing personal needs may sometimes be associated with conflict or tension, which can further discourage open communication.
Fear of speaking up is a human response rather than a sign of weakness. Confidence does not need to exist before expression; instead, it can develop gradually through the act of speaking and being heard. In this sense, speaking up becomes not a confrontation, but a respectful way of sharing needs, experiences, and boundaries.
Reframing communication in this way supports a more empowering understanding of voice and agency. It encourages the idea that authenticity and self-expression can coexist with respect for others, and that empowerment is built progressively through practice, awareness, and supportive environments.
Communication is shaped by social expectations, the culture and what kind of family they have grew up in. understanding these cultural and structural factors is important when designing empowerment or educations sessions.
Women’s voice matter, as an organization we want to see more women talking about their needs and putting their opinions. Since our work is directed towards them, we want to be guided by their input and experiences. If they are facing challenges, we want to support them in addressing these issues. However, we recognise that they may have difficulties communicating these needs, which is why we aim to increase awareness and provide education around these topics. We as Mitra Wacana have conducted workshop about women empowerment and boundaries. We also combined this approach with yoga as a supportive and accessible way to create space for reflection, awareness, and empowerment.
Understanding Boundaries
One of the key topics we explored was boundary setting a vital part of self-care and healthy relationships. Many women face challenges in expressing their needs due to cultural and societal expectations. We have conducted a workshop for women and have discussed about situations with the women in the village. Sometimes they forget their own voice and not be able to talk about their needs. We discussed strategies to identify personal values, articulate needs clearly, and practice saying no when necessary. Emphasizing boundaries helps women gain confidence and improves their ability to navigate both personal and professional relationships.
How can you set these boundaries?
Identify Your Needs and Limits
Reflect on what makes you feel safe, respected, and comfortable in different areas of life family, community, work, and personal time. Awareness of your own needs is the first step to expressing them.
Start Small
Begin by asserting limits in low-risk situations, such as requesting personal space, expressing a preference, or politely declining minor requests. Gradually, confidence builds for larger or more challenging situations. You can also write these down and helps you become more aware and reflective while writing and changes the way your brain processes or learns new patterns.
Use Clear and Respectful Communication
Practice stating your limits directly and calmly, without blaming or attacking others. For example: “I need some quiet time right now” or “I am not comfortable discussing this topic.”
Combine Words with Actions
Boundaries are reinforced by consistent actions. If you set a limit, follow through respectfully to demonstrate that your boundaries are important. Its important how you use your voice
while saying it.
Seek Support and Safe Spaces
Share your experiences with trusted friends, community groups, or facilitators. Programs like workshops and yoga sessions can provide safe environments to practice boundary-setting and receive feedback.
Reflect and Adjust
After asserting a boundary, reflect on how it felt and how others responded. Adjust your approach if necessary, maintaining both self-respect and relationship awareness.
We conducted a joyful yoga session at the final part, we asked them a reflective question: “What is one thing you could do to be kinder to yourself?” It is important for women to prioritise their own needs first, because when children observe their mothers taking care of themselves, they learn to value self-care as well.
Moreover, the women should remember that by using their voices, they are inspiring others. When one woman speaks up, she speaks not only for herself but also for other women, creating a ripple effect of empowerment. This collective expression is where we believe real change begins.

Krisis Kesantunan Berbahasa dalam Hate Comment pada Kolom Komentar Instagram @ahmaddhaniofficial

Mandi Untuk Menjaga Atau Merusak Skin Barrier? Evaluasi Dan Jaga Skin Barrier








