web analytics
Connect with us

Rilis

Jadwal Talkshow di Radio KIS AM

Mitra Wacana WRC

Published

on

Teks sumpah pemuda. Gambar: http://siswonesia.com

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit

Tema            : Refleksi dan Tantangan Pemuda Di Era Digital
Narasumber : Listana Khasanah dan Windi Meilita
Hari/Tanggal : Senin, 23 Oktober 2017
Jam              : 11.00-12.00 WIB
Radio           : Radio Kartika Indah Suara Jogja, Jl Sonosewu Baru 465 Yogyakarta
Host             : Okti Purbandari

Hampir 89 tahun sejak lahirnya sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 sebagai suatu gerakan ideologis yang dipelopori para pemuda se-antero nusantara patut diteladani oleh pemuda era sekarang. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemuda memberikan kontribusi dalam sejarah perjuangan merebut kemerdekaan. Lahirnya sumpah pemuda yang menyatakan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia bukan tanpa sebab. Sejarah lahirnya sumpah pemuda dimulai pada 1926 oleh PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajara Indonesia) dan para cendikiawan muda yang mencetuskan gagasan menyatukan seluruh organisasi berbasis pemuda di seluruh wilayah Nusantara. Lahirnya sumpah pemuda juga merupakan awal sejarah dari kekuatan bangsa Indonesia untuk menyatukan seluruh wilayah ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meredeka dan berdualat.

Sumpah pemuda memiliki arti ideologis yang berhasil membentuk Indonesia bukan sebagai Negara melainkan sebagai bangsa. Ini menjadi catatan penting, bahwa kemerdekaan sebuah Negara diukur dari berbagai parameter mulai dari wilayah, pemerintahan, rakyat, simbol Negara dan diakui oleh Negara lain. Namun, bicara bangsa berarti bicara mengenai ukuran tanpa syarat, namun memiliki rasa persatuan yang kuat. Sesungguhnya, inilah catatan sudut pandang sumpah pemuda dari segi gagasan (ideologi) yang perlu dipromosikan kembali, bahwa Indonesia lahir sebagai bangsa, bukan Negara.

Dalam kondisi saat ini, tentu tantangan dan zaman sudah berbeda dengan 1928. Jika pada waktu itu para pemuda berhasil menyatukan hampir seluruh organisasi dari berbagai latar belakang suku, agama, bahasa dan ras, maka untuk era sekarang para pemuda memiliki tanggung jawab menjaga dan merawat ragamnya bangsa Indonesia. Hal ini tentu tidak ringan, mengingat makin tumbuh suburnya teror “kebencian” terhadap organisasi lain serta munculnya gerakan yang diduga akan mengubah dasar negara, Pancasila. Lalu bagaimana sebaiknya pemuda zaman sekarang mensikapi hal tersebut? Apa yang terjadi jika pemuda yang merupakan estafet bangsa terpecah belah? Bagaimana agar isu SARA dapat dibendung oleh pemuda?

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Pelayanan Kesehatan Reproduksi Yang Inklusif Bagi Difabel

Mitra Wacana WRC

Published

on

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit
Ada apa dengan KPK ?

Agus Rahmad Hidayat
Mahasiswa

Jum’at (9/7/2021) Talkshow sinau sareng #36 Mitra Wacana kali ini ditemani oleh narasumber Solih Muhdlor, Koordinator Divisi GEDSI Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA) Yogyakarta, dengan tema yang diangkat “Pelayanan Kesehatan Reproduksi Yang Inklusif Bagi Difabel” selama satu jam.

Dalam talkshow kali ini, narasumber mengungkapkan problem pelayanan kesehatan reproduksi dan informasi bagi disabilitas saat ini sering sekali tidak memiliki akses pelayanan kesehatan reproduksi yang memadai. Kebutuhan-kebutuhan seperti pendidikan, KTP, perawatan dan lain-lain sangat sulit mereka dapatkan, apalagi menyangkut kebutuhan kesehatan reproduksi. 

Pemenuhan layanan kesehatan reproduksi memiliki banyak hambatan dan tantangan bagi teman-teman penyandang disabilitas, seperti layanan dalam mengakses informasi. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh faktor eksternal dalam sulitnya mengakses informasi terkait dengan layanan-layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang berada di dekat mereka. Informasi yang didapatkan belum tentu dimengerti dan dipahami dalam tindak lanjut informasi tersebut. 

Penyandang disabilitas membutuhkan informasi kesehatan reproduksi yang lengkap, ramah, inklusif dan mudah di pahami. Penting juga mendapatkan sosialisasi kesehatan reproduksi agar terhindar dari kekerasan seksual, penyakit menular seksual, kekerasan fisik, aborsi tidak aman, beban ganda, nikah dini yang tentunya sesuai dengan kebutuhan ragam disabilitas.

Pemenuhan layanan kesehatan reproduksi bagi disabilitas memiliki hak yang sama seperti haid, kehamilan yang bermasalah, menghadapi sistem reproduksi yang bermasalah sejak awal dan lain sebagainya. Upaya pemenuhan kesehatan seksual reproduksi dapat dilakukan dengan memberikan aksesbilitas informasi, pelayanan dan fasilitas, pelibatan pendampingan atau orang tua, lembaga pendidikan untuk sosialisasi dan peningkatan pemahaman kesehatan reproduksi, dan  kerjasama pemerintah  

Layanan yang diperlukan bagi disabilitas adalah layanan yang inklusif dan ramah bagi disabilitas serta memiliki program layanan yang menjangkau disabilitas, akomodasi dalam akses layanan yang penuh, memanfaatkan dan mencegah kondisi disablitas agar tidak menjadi lebih buruk.

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung