web analytics
Connect with us

Opini

Feminisme dan Islam

Mitra Wacana WRC

Published

on

Mitra Wacana

This post is also available in: English Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit
Aktifis Perempuan

Sri Marpinjun

Oleh Sri Marpinjun (Aktivis Perempuan Yogyakarta)

Feminisme sering dianggap tak sejalan dengan Islam karena dianggap perempuan akan mengambil dominasi laki – laki. Berbagai argumen tentang buruknya feminisme makin gencar mencuat. Mulai dari feminisme gerakan barat, tak sesuai dengan Islam, feminisme melawan hukum Tuhan, pelecehan seksual terjadi karena perempuan berpakaian seronok, hingga pandangan seorang muslim tak akan sahih menjadi muslim jika ia mendukung feminisme.

Ada beberapa video kajian islam yang diunggah ke youtube yang berpandangan tidak sesuai dengan prinsip feminisme. Padahal sesungguhnya feminisme dan Islam punya misi yang sama. Perjuangan Rasulullah ketika berdakwah berorientasi untuk memperjuangkan dan membela kelompok lemah.

Menurut pandangan penulis, prinsip feminisme itu sebagai berikut: Pertama, menghargai hak perempuan setara dengan laki-laki di hadapan Allah, apalagi hukum di dunia. Kedua, memperlakukan perempuan dengan layak tanpa ada diskriminasi. Ketiga, memberi kesempatan perempuan berpartisipasi dalam pembangunan ilmu pengetahuan dan prakteknya dalam kehidupan.

Apakah ada orang yang tidak setuju dengan ketiga prinsip di atas? Kebanyakan orang sepakat dengan hal itu. Jadi feminisme itu sesuatu yang ada di dalam diri banyak orang karena keadilan itu aspirasi setiap orang. Dalam ajaran Islam, ke (3) prinsip di atas juga diajarkan, baik dalam Kitab Suci Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Kalau ada feminis yang tidak sesuai dengan kemauan kita maka jangan merendahkannya. Islam juga mengajarkan untuk tidak berprasangka buruk kepada sesama. Kepada pelacur saja kita tidak boleh berprasangka buruk. Siapa tahu mereka masuk surga lebih dulu daripada kita. Kita mengira selalu benar sehingga tidak pernah instropeksi diri.

Feminisme itu bukan sebuah agama melainkan sebuah gerakan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak antara perempuan dan laki – laki. Tidak usah khawatir dan risau kalau feminisme akan menggantikan agama karena itu tidak akan terjadi. Feminisme itu perspektif yang mengingatkan agar kita lebih adil secara gender dan jenis kelamin.

Ingatlah, kemajuan ilmu teknologi diberbagai bidang kehidupan itu di dalamnya karena ada peran perempuan yang mengorbankan dirinya berpenampilan berbeda dengan perempuan kebanyakan.

 

Opini

Sadarlah, Kita Ini Majemuk

Mitra Wacana WRC

Published

on

This post is also available in: English Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit

Wahyu Tanoto (Dewan Pengurus Mitra Wacana)

Kita semua memahami bahwa bangsa kita memiliki beragam Suku, Agama, Ras, Budaya, dan golongan sejak lama bahkan sebelum muncul Indonesia. Maka sikap toleransi mestinya menjadi nilai-nilai dan praktik kehidupan warganya. Termasuk pada bulan puasa seperti sekarang ini.

Puasa, sebagai kesadaran pribadi dan “ panggilan iman “ seyogianya dapat mengajarkan kepada kita untuk bersikap dewasa dalam beragama. Bagi yang tidak berpuasa hendaknya mampu menghormati dan menghargai yang berpuasa. Sebaliknya, bagi yang menjalankan puasa, juga dapat melihat dengan bijaksana, mampu menerima, melayani atau bahkan mengakomodasi mereka yang tidak puasa.

Meskipun penduduk Indonesia mayoritas beridentitas agama Islam, bukan berarti otomatis sebagai Negara agama. Dalam konteks ini, biarkanlah warung makan, toko-toko, restoran tetap buka dan para penjual makanan tetap dapat berkeliling menawarkan barang dagangannya dengan rasa aman-nyaman tanpa khawatir di “geruduk” oleh kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama.

Jika kita sepakat bahwa puasa diniatkan sebagai ibadah yang menuntun terbentuknya perilaku agar lebih memahami dan toleran terhadap sesama, sejatinya pengurangan jam kerja, pembatasan pelayanan publik atau bahkan pemasangan korden/tirai di rumah makan tidaklah diperlukan.

Boleh jadi begini, bagi yang menjalankan puasa, tidak perlu manja dan minta diperlakukan istimewa. Sebaliknya bagi yang tidak puasa juga berlaku hal yang sama. Karena, di dalam puasa, terkandung nilai-nilai penghormatan kepada mereka yang puasa dan tidak berpuasa; baik yang muslim maupun non-muslim. Bahkan ada sebagian golongan yang memang dibolehkan untuk tidak berpuasa; pekerja berat, lansia, orang yang sakit “berat”, perempuan hamil dan para musafir.

Menurut aktivis perempuan Sri Roviana, dalam kajian menjelang buka puasa dengan tema Puasa, Toleransi dan Spirit Menjaga Kemajemukan (27/4/21) di kantor perkumpulan Mitra Wacana menyebutkan bahwa ada keterkaitan puasa, toleransi dan kemajemukan. ” Jadi kita bisa menemukan ajaran dan puasa ada di agama-agama di luar Islam “, ungkapnya. Kemajemukan merupakan keniscayaan yang tidak dapat ditolak oleh manusia karena memang sengaja di desain seperti itu agar manusia saling mengenal dan memahami keberadaan satu sama lain.

Ada beberapa hal yang menjadi akar kemajemukan yang diungkapkan oleh Sri Roviana, diantaranya yaitu: (1). Sebab-sebab alamiah: manusia memiliki sifat-sifat bawaan (fitrah) yang mendorong mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang baik atau tidak baik dan membentuk karakter individual yang unik: berbeda dengan manusia yang lainnya. (2). Sebab-sebab ilmiah: perbedaan yang terjadi karena “nature” teks Agama, proses, dan pendekatan intelektual dalam memahami teks keagamaan. Sebab-sebab ilmiah melahirkan perbedaan ideologi organisasi dan gerakan keagamaan.(3). Sebab-sebab amaliah: perilaku dan kecenderungan manusia dalam melaksanakan pemahaman dan berbagai aspek yang terkait dengan proses dialog dan dialektika sosial-keagamaan.

Saya teringat pernyataan M. Amin Abdullah yang memberikan contoh sederhana untuk tema kemajemukan dalam sebuah wawancara yang pernah saya lakukan beberapa tahun lalu yang menyatakan bahwa, ketika keluar dari pintu rumah kita saja sudah majemuk, lalu untuk apa mempertentangkannya. Bajunya sudah beda, logatnya beda, kebiasaannya juga beda.

Dari sini saya dapat mengambil pelajaran berharga bahwa pada prinsipnya kemajemukan itu nyata, tidak mengada – ada. Boleh jadi yang dibutuhkan oleh saya adalah memiliki kesadaran penuh untuk menerima kemajemukan tersebut agar sisi kemanusiaan yang melekat pada saya semakin bertumbuh dewasa dan tidak merasa paling benar. Semoga. Wallahu a’lam.

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

Gedongan Baru RT.06/RW.43 Pelemwulung No. 42 Banguntapan, Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta 55198
Telpon: +62 274 451574 Email: plip_mitrawacana@yahoo.com or mitrawacanawrc@gmail.com
Copyright © 2019 Divisi Media Mitra Wacana
Tim Redaksi | Kebijakan Privasi | Disclaimer | Tata cara penulisan

Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung